TINOMBALA.COM, Gorontalo — Ketika banyak pemerintah daerah sibuk meratapi penyusutan ruang fiskal akibat efisiensi anggaran nasional, Kabupaten Gorontalo Utara justru memilih jalur berbeda, bergerak cepat di tengah keterbatasan.
Daerah yang tahun ini genap berusia 19 tahun itu menunjukkan sinyal pertumbuhan yang tak bisa dianggap remeh. Di saat sejumlah kabupaten masih terseok menyesuaikan diri dengan pola distribusi anggaran baru dari pemerintah pusat,
Gorontalo Utara mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen pada 2025, melonjak dari 4,17 persen pada tahun sebelumnya.
Angka itu menempatkan kabupaten yang dipimpin Thariq Modanggu di posisi kedua tertinggi di Gorontalo.
Pencapaian tersebut mendapat sorotan langsung dari Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-19 Gorontalo Utara, Minggu, 26/04/2026.
Menurut Gusnar, keterbatasan anggaran bukan lagi alasan yang relevan bagi kepala daerah untuk gagal menghadirkan pembangunan.
“Dalam perspektif anggaran, kita memang tidak bisa berbuat banyak. Tapi saya percaya dengan kepemimpinan yang efektif, keadaan itu bisa diubah. Dan itu sudah terbukti di Gorontalo Utara,” kata Gusnar di hadapan peserta sidang paripurna.
Pernyataan itu seperti menegaskan perubahan lanskap kekuasaan fiskal daerah. Pemerintah pusat, kata dia, kini jauh lebih selektif dalam menyalurkan anggaran. Daerah yang dianggap lamban mengeksekusi program perlahan tersingkir dari prioritas.
“Sekarang anggaran banyak berada di pusat. Pemerintah pusat melihat secara saksama kepala daerah mana yang cepat bekerja dan mampu memimpin dengan baik. Di situlah anggaran akan diarahkan,” ujarnya.
Di balik angka pertumbuhan ekonomi, terdapat indikator lain yang turut memperkuat narasi keberhasilan tersebut.
Rasio gini di Gorontalo Utara turun dari 0,435 pada 2024 menjadi 0,329 pada 2025, indikasi bahwa distribusi pendapatan mulai bergerak lebih merata.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita naik dari 33,24 menjadi 35,47.
Tingkat kemiskinan yang sebelumnya berada di angka 16,96 persen, turun menjadi 15,89 persen.
Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 68,63 menjadi 69,62.
Bagi pemerintah daerah, deretan angka itu menjadi bahan optimisme. Namun bagi Thariq Modanggu, capaian statistik belum cukup untuk membuat pemerintah berpuas diri.
Di balik laporan manis pertumbuhan ekonomi, masih tersimpan persoalan klasik yang belum terselesaikan.
Masalah lingkungan dan persampahan masih membelit. Abrasi pantai terus mengancam wilayah pesisir. Kerentanan terhadap bencana alam belum sepenuhnya tertangani.
Cakupan layanan air bersih masih terbatas. Pengangguran terbuka tetap menjadi pekerjaan rumah. Begitu pula prevalensi stunting yang belum turun sesuai target.
Thariq tampaknya sadar, euforia perayaan ulang tahun daerah bisa dengan cepat berubah menjadi kritik publik bila persoalan mendasar tak segera dijawab.
Karena itu, di forum yang sarat simbol politik tersebut, ia memilih menyampaikan pesan yang lebih realistis ketimbang retorika seremonial.
Ia meminta seluruh jajaran pemerintah daerah menjaga optimisme sekaligus mempercepat kerja nyata.
“Terima kasih kepada Pak Gubernur atas dukungan penuh selama ini bersama DPRD dan seluruh pihak yang terus membantu pembangunan serta menghadirkan program nasional di Gorontalo Utara,” kata Thariq.
Di usia ke-19, Gorontalo Utara seperti sedang mengirim pesan sederhana namun tegas kepada daerah lain: keterbatasan anggaran bisa menjadi alasan untuk stagnan, atau justru momentum untuk membuktikan kapasitas kepemimpinan. Pilihan akhirnya ditentukan oleh siapa yang berani bergerak lebih cepat.
Pewarta: Nikson Daud
Editor: Linda Fang

















