Breaking News

Home / Palu / Sulteng

Jumat, 20 Maret 2026 - 12:01 WIB

Hadianto dan Kritik yang Dirawat

Foto Istimewa Walikota Palu Hadiyanto Rasid

Foto Istimewa Walikota Palu Hadiyanto Rasid

Tinombala.com, Palu Sulawesi Tengah — Di ruang kerja Wali Kota Hadianto Rasyid, kritik tampaknya tak pernah benar-benar menjadi ancaman. Ia justru hadir sebagai semacam cermin memantulkan kekurangan, sekaligus menguji ketahanan seorang pemimpin dalam menjaga arah kebijakan publik.

Bagi sebagian kepala daerah, suara sumbang kerap dianggap gangguan. Tapi tidak demikian bagi Hadianto. Sejumlah aktivis, jurnalis, hingga warga yang vokal mengkritik kinerjanya justru tidak diposisikan sebagai lawan. Mereka dibiarkan tetap bersuara, bahkan dalam nada paling tajam sekalipun.

Foto Istimewa Polres Morowali

Sikap itu terlihat dalam beberapa momentum, terutama ketika kritik mengalir deras terkait pelayanan publik dan kebijakan kesejahteraan aparatur. Alih-alih meredam atau membantah secara defensif, ia memilih merespons dengan langkah perbaikan. Kritik, dalam kerangka berpikirnya, bukan untuk dilawan melainkan dirawat.

Pendekatan ini jarang. Di banyak tempat, relasi antara penguasa dan pengkritik cenderung tegang, bahkan konfrontatif. Namun di Palu, setidaknya dalam beberapa waktu terakhir, pola itu seperti mencoba dibalik, kritik dijadikan bahan bakar, bukan bara.

Momentum menjelang Hari Raya menjadi salah satu ujian paling konkret. Ketika isu Tunjangan Hari Raya (THR) mencuat di berbagai daerah, Pemerintah Kota Palu justru berhasil menyalurkan hak tersebut kepada aparatur sipil negara. Tak hanya itu, tambahan penghasilan yang dikenal sebagai HAGALA ikut diberikan sebuah kebijakan yang disambut positif oleh banyak pihak.

Foto Istimewa Polres Morowali

Bagi penerima, kebijakan itu bukan sekadar angka dalam slip pembayaran. Ia menjadi simbol kehadiran negara di tingkat lokal bahwa kerja birokrasi tetap dihargai, dan kesejahteraan pegawai tidak diabaikan.

“Terima kasih untuk THR dan HAGALA-nya, Pak Wali. Saya sangat bahagia menerimanya,” ujar seorang ASN, yang selama ini juga dikenal kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah kota

Baca Juga:  Di Balik Megahnya Mespemda Tolitoli, Atap Bocor dan Lumut Menggerogoti

Pernyataan semacam itu menyiratkan satu hal kritik dan apresiasi bukan dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan beriringan, selama ada ruang dialog yang sehat.

Di titik inilah kepemimpinan diuji. Bukan hanya pada kemampuan mengeksekusi program, tetapi juga pada kelapangan menerima koreksi. Hadianto tampaknya memilih jalan yang tidak populer bagi sebagian pemimpin membuka diri, bahkan ketika yang datang adalah suara yang tidak nyaman didengar.

Apakah pendekatan ini akan konsisten terjaga? Waktu yang akan menjawab. Namun untuk saat ini, di tengah riuhnya praktik kekuasaan yang sering alergi kritik, Palu menawarkan satu potret berbeda. Hadiyanto Rasid seorang wali kota yang tidak sekadar memimpin, tetapi juga mendengar.

Pewarta : Faizal
Editor: Linda Fang

Share :

Baca Juga

Buol

Angka Stunting 2023-2024 Melonjak Di Kabupaten Buol Ketua Komisi I DPRD Buol Inspeksi Mendadak Ke- Puskesmas

Buol

DPRD Buol Gercep Investigasi Polemik MBG di Bokat: Temukan Kejanggalan SOP di Sekolah Penerima

Buol

700 BPD Berkumpul di Buol, Ada Apa?

Buol

Buol Membawa Pulang 16 Gelar, Kini Menanti Dukungan Menuju UDG Nasional 2027

Palu

Gubernur Sulteng: Anwar Hafid, Prioritaskan Perbaikan Ruas Jalan Provinsi Kokobuka – Air Terang Kabupaten Buol Tahun 2026

Buol

Musyawarah Desa: Keterbukaan Publik Dalam Pengelolaan Keuangan Desa

Buol

Dua Bulan Alat Berat Beroperasi, Ribuan Kubik Batu Diangkut dari Mana?

Sulteng

Imam Mesjid Tinombo Tewas Di Ujung Pisau ODGJ
error: Konten ini dilindungi hak cipta!