TINOMBALA.COM, Bukittinggi — Aroma rendang yang baru diangkat dari kuali berpadu dengan gulai cincang yang masih mengepul menyambut setiap tamu yang melangkah ke Lapau Panjang, rumah makan yang mulai menggelar soft opening pada Selasa, 4 Agustus 2026. Di tengah menjamurnya restoran modern, Lapau Panjang memilih menempuh jalan berbeda: menghidupkan kembali suasana lapau tradisional Minangkabau dengan resep turun-temurun dan penyajian yang mempertahankan jejak budaya.
Bangunan semi terbuka tanpa dinding permanen membuat angin leluasa berembus di sela meja-meja makan. Pengunjung tak hanya datang untuk mengisi perut, tetapi juga merasakan atmosfer yang mengingatkan pada lapau-lapau Minang masa silam—tempat orang bercakap, berbagi cerita, sekaligus menikmati masakan rumahan.
Pengelola Lapau Panjang, Faisal Zulfi, mengatakan momentum pembukaan rumah makan itu bertepatan dengan mulai bergairahnya aktivitas perdagangan di Bukittinggi. Menurut dia, harga kebutuhan pokok untuk bahan masakan masih relatif stabil sehingga kualitas hidangan dapat dipertahankan tanpa membebani pelanggan.
“Pedagang dari luar daerah mulai ramai berbelanja di pasar pagi maupun pasar sore. Aktivitas ekonomi perlahan meningkat dan itu menjadi sinyal positif bagi usaha kuliner,” kata Faisal.
Lapau Panjang menawarkan beragam menu khas Minangkabau, mulai dari nasi Solok, dendeng khas Padang Panjang, rendang, gulai cincang, hingga aneka lauk tradisional yang lazim dijumpai di Bukittinggi dan sekitarnya. Yang membedakan, seluruh hidangan disajikan menggunakan piriang kanso, piring logam tradisional yang dahulu akrab digunakan di lapau-lapau Minang.
Tak hanya mengandalkan cita rasa, rumah makan ini juga menghadirkan pengalaman bersantap yang dekat dengan tradisi. Saat jam makan siang dipadati pengunjung, sistem prasmanan diterapkan agar pelayanan lebih cepat. Sementara bagi keluarga atau rombongan, tersedia pilihan makan bajamba, tradisi makan bersama khas Minangkabau yang dapat dinikmati dua hingga enam orang dalam satu sajian.
Lapau Panjang beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Dengan harga berkisar Rp20 ribu hingga Rp28 ribu per porsi, pengelola berharap rumah makan tersebut dapat menjadi pilihan bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati masakan Minang autentik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
“Kami ingin menghadirkan masakan Minang yang autentik, suasana lapau yang nyaman, pelayanan yang cepat, serta harga yang tetap terjangkau bagi semua kalangan,” ujar Faisal.
Di kota yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Sumatera Barat, kehadiran Lapau Panjang menjadi lebih dari sekadar penambahan tempat makan. Ia menawarkan sebuah pengalaman: menikmati kuliner Minangkabau sambil merasakan kembali suasana lapau yang selama ini perlahan mulai tergeser oleh konsep restoran modern. (Sari/Red)



















