Tinombala.Com, Sidrap – Lintasan Sirkuit Puncak Mario, Sidrap, Minggu (18/01/2026), bergetar bukan karena kecepatan, melainkan karena rindu. Di atas aspal yang biasanya menghakimi waktu, sebuah motor bernomor #198 kembali melaju—membawa lebih dari sekadar mesin dan bahan bakar. Ia membawa nama, kenangan, dan mimpi seorang legenda yang telah pergi.
Aspal yang biasa mencatat sepersekian detik, hari itu berubah menjadi ruang perjumpaan. Bukan antara pembalap dan lintasan, melainkan antara masa lalu dan janji yang belum selesai. Di situlah Wawan Wello (38) mengambil alih kemudi motor yang pernah menyatu dengan tubuh almarhum Awhin Sanjaya.

Wawan Welo Saat tunggangi Motor Balap Milik Almarhum Ahwin Sanjaya.Foto Istimewa
Saat tangannya menggenggam setang, ada getaran yang tak bisa dijelaskan oleh logika mekanis. Getaran itu bukan semata hasil putaran mesin, melainkan gema sebuah tekad: melanjutkan mimpi yang terhenti, menjaga nyala semangat yang ditinggalkan.

Wawan Welo Foto Istimewa
Setiap tikungan bukan sekadar ujian teknik. Ia menjelma percakapan sunyi antara dua sahabat. Dalam deru mesin yang memecah udara, Wawan seakan mendengar suara yang tak lagi kasat mata—nasihat, tawa, dan keyakinan yang dulu mengiringi setiap start. Waktu seperti melambat, memberi ruang bagi ingatan untuk berlari lebih dulu.

Foto Istimewa Bantaeng Viral
Wawan tidak membalap sendirian. Ada semangat sang legenda yang setia membonceng di pundaknya. Motor itu mungkin telah kehilangan penunggang aslinya, tetapi siang itu ia menemukan kembali denyut jantungnya. Bukan demi podium, bukan pula demi catatan waktu, melainkan demi penghormatan.
Di Puncak Mario, doa bergemuruh di balik deru mesin. Dan di antara asap knalpot serta panas aspal, sebuah persahabatan membuktikan bahwa kematian mungkin menghentikan langkah, tetapi tak pernah mampu mematikan mimpi.(TB)
















