TINOMBALA.COM, Bukittinggi — Pagi itu, di lereng Bukit Ambacang, tidak ada seremoni besar ataupun pidato panjang. Yang terjadi justru sebuah kesepakatan sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh melampaui nilai sebidang tanah. Di saat harga tanah terus merangkak naik, sejumlah warga memilih menyerahkan sebagian hak miliknya kepada Pemerintah Kota Bukittinggi agar berdiri sebuah mushalla, ruang ibadah yang kelak dapat digunakan masyarakat dan wisatawan.
Kesepakatan hibah itu dicapai pada Rabu, 15 Juli 2026. Di tengah geliat pemerintah membenahi kawasan Bukit Ambacang sebagai destinasi wisata, warga justru menghadirkan sumbangsih yang tak bisa dihitung hanya dengan luas lahan. Mereka menitipkan harapan agar kawasan yang ramai dikunjungi itu juga memiliki ruang untuk menenangkan jiwa.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyambut kabar tersebut dengan rasa syukur. Baginya, hibah tanah dari keluarga Inyiak Datuak Sati, keluarga Suku Sikumbang, serta Syukri Naldi Lubuak Rangkayo bukan sekadar penyerahan aset. Di baliknya tersimpan pesan bahwa pembangunan kota akan semakin kokoh ketika masyarakat ikut mengambil bagian.
“Alhamdulillah, hari ini menjadi kabar yang membahagiakan bagi kita semua,” ujar Ramlan.
Di Minangkabau, tanah merupakan pusaka yang dijaga lintas generasi. Karena itu, keputusan menghibahkan sebagian lahan bukan perkara sederhana. Ada kepercayaan, keikhlasan, dan kesediaan mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai itulah yang, menurut Ramlan, masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Bukittinggi.
Pemerintah Kota Bukittinggi berencana membangun mushalla yang representatif di lokasi tersebut. Kehadirannya diharapkan melengkapi fasilitas kawasan wisata Bukit Ambacang, sehingga pengunjung tidak perlu meninggalkan lokasi hanya untuk menunaikan salat. Mushalla itu juga diproyeksikan menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat sekitar.
Bagi pemerintah kota, pembangunan bukan semata menghadirkan jalan, taman, atau bangunan megah. Di balik pembangunan fisik, ada kebutuhan yang tak kalah penting, yakni menyediakan ruang yang menjaga nilai religius di tengah berkembangnya sektor pariwisata. Bukittinggi ingin menunjukkan bahwa kemajuan kota dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai spiritual.
“InsyaAllah, mushalla ini akan menjadi tempat ibadah bagi masyarakat dan para wisatawan yang berkunjung,” kata Ramlan.
Di penghujung keterangannya, Ramlan mendoakan agar keikhlasan para penghibah menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Sebab, ketika sebagian tanah berubah menjadi rumah ibadah, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya sebuah bangunan, melainkan warisan kepedulian, gotong royong, dan kebersamaan yang akan terus hidup bagi generasi berikutnya. (Sari)
Editor : Linda Fang



















