TINOMBALA.COM, Bukittinggi — Rantai pendek yang disebut membatasi pergerakan Zidan, gajah di TMSBK Bukittinggi, memantik sorotan aktivis lingkungan Melanie Subono. Ia mempertanyakan praktik perawatan satwa tersebut dan dampaknya terhadap kesejahteraan Zidan.
Sorotan itu bukan semata soal seutas rantai. Pergantian mahout, ruang gerak Zidan, serta standar perawatan gajah ikut dipertanyakan.
BKSDA Sumatera Barat menyatakan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bukittinggi dan pusat latihan gajah terkait penanganan Zidan.
Kini pertanyaannya, mengapa Zidan harus terus dirantai, dan apakah praktik tersebut sesuai standar kesejahteraan satwa? (Sari/Red)





















