Tinombala.com, Jakarta Barat – Ramadan belum genap sepekan, tapi denyut pengamanan di wilayah Jakarta Barat sudah terasa berbeda. Sejak Sabtu malam, 21/02/2026, jajaran pemerintah kota bergerak serentak memonitor situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Lampu-lampu pos ronda kembali menyala lebih lama, sementara patroli menyusuri gang-gang sempit hingga jalan protokol.
Asisten Pemerintahan Jakarta barat, Holi Susanto, mengatakan langkah ini merupakan tindak lanjut instruksi Wali Kota agar suasana tetap kondusif selama bulan suci. “Kegiatan monitor cipta kondisi ini adalah rutinitas kewilayahan yang dilakukan jajaran Tiga Pilar di tingkat kecamatan hingga kelurahan,” ujar Holi, Minggu pagi. Rutinitas itu, menurut dia, kini diperkuat bukan hanya formalitas apel, melainkan kehadiran nyata di lapangan.
Kolaborasi menjadi kata kunci. Aparat Polsek dan Koramil dilibatkan bersama camat, lurah, serta jajaran perlindungan masyarakat. Organisasi kemasyarakatan seperti FKDM, LMK, Karang Taruna hingga tokoh masyarakat diajak turun tangan. Pemerintah kota menyebutnya sebagai implementasi program “Jaga Jakarta”: menjaga kampung dengan pendekatan partisipatif, bukan sekadar penindakan.
Fokusnya sederhana tapi krusial—meminimalisir gangguan ketertiban pada jam-jam rawan. Waktu tarawih dan sahur menjadi perhatian utama. Pemerintah ingin memastikan warga dapat beribadah tanpa rasa waswas, tanpa bising petasan berlebihan, tanpa gesekan remaja, tanpa potensi kriminalitas yang kerap muncul saat lengah.
Wali Kota Iin Mutmainnah berharap kehadiran petugas dan relawan di lapangan mampu menjaga kekhusyukan hingga akhir Ramadan. Senada, Camat Taman Sari yang juga Pelaksana Tugas Camat Cengkareng, Simson Hutagalung, telah menginstruksikan seluruh lurah untuk menutup celah gangguan keamanan, terutama di kawasan padat penduduk dan ruang publik. Ramadan, bagi Jakarta Barat, bukan hanya soal ibadah—tetapi juga soal memastikan kota tetap teduh ketika malam kian larut. (Denny/Editor Linda)















