Tinombala.Com// Laporan ini menyingkap konflik perebutan nikel di Halmahera Timur, sebuah pusat kehidupan adat yang berubah menjadi arena benturan korporasi tambang, jaringan modal-politik, dan aparat negara. Masuknya industri nikel telah mengusir warga Maba Sangaji dari ruang hidup mereka, meninggalkan kerusakan lingkungan dan penderitaan rakyat.
Hutan adat digunduli, sungai utama tercemar lumpur merah, dan lahan pangan tradisional hilang. Petani dan pengolah sagu kini kehilangan tanah dan harga diri. Protes damai warga dibalas dengan kriminalisasi, penangkapan, intimidasi, dan vonis penjara bagi pejuang lingkungan.
Sementara itu, korporasi saling serang dalam sengketa tumpang tindih izin, manipulasi tapal batas, dan laporan kepolisian. Negara lebih banyak absen, bahkan justru berpihak kepada modal, mengabaikan penderitaan rakyat dan kerusakan lingkungan.
Sengketa PT Position versus PT Wana Kencana Mineral menjadi potret telanjang kolusi kepentingan modal dan negara, di mana hukum dan birokrasi berubah menjadi alat akumulasi dan represi. Laporan ini menawarkan investigasi mendalam tentang jejak bisnis yang melintasi Jakarta-Bermuda-Beijing, jejaring politik-militer yang mengunci ruang kendali, dan “keajaiban” bagaimana ekosistem, sejarah, serta martabat orang Halmahera dikorbankan demi keuntungan segelintir elit.
Bacalah, dan temukan cerita orang-orang biasa yang bertahan di tengah gempuran kekuasaan, menuntut hak atas air, tanah, dan masa depan yang kini kian terancam. Jika keadilan harus diperjuangkan hari ini, suara dan perlawanan dari Maba Sangaji adalah titik awalnya. (Sumber berita Jatam)

















