Tinombala.com, Jakarta — Ruang rapat Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat di Jalan Tanah Abang I, Gambir, Senin siang, 9/032026, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Manajemen (BEM KM STIAMI) datang membawa setumpuk catatan. Isinya beragam keluhan warga mulai dari persoalan infrastruktur lingkungan, pendidikan, hingga ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah Jakarta Pusat.
Audiensi itu diterima langsung oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin. Di hadapan para mahasiswa, ia menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut dia, kritik dan masukan dari kalangan mahasiswa dapat menjadi salah satu sumber informasi penting bagi pemerintah daerah untuk merespons persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Kita sama-sama punya semangat untuk mengelola Jakarta Pusat lebih baik lagi. Saya sebagai wali kota tidak pernah berhenti berpikir dan bekerja lebih responsif bagaimana membuat kota ini semakin baik,” kata Arifin dalam pertemuan tersebut.
Dalam dialog yang berlangsung cukup cair itu, para mahasiswa memaparkan sejumlah temuan lapangan yang mereka himpun dari masyarakat. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kondisi infrastruktur lingkungan, akses pendidikan, serta persoalan ekonomi warga yang dinilai masih membutuhkan perhatian pemerintah.
Arifin menilai laporan semacam itu penting sebagai bahan evaluasi pemerintah. Ia juga menekankan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai kanal pengaduan bagi masyarakat agar laporan dapat segera ditindaklanjuti.
Salah satu kanal yang disebutnya adalah aplikasi JAKI (Jakarta Kini), platform digital milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memungkinkan warga menyampaikan berbagai laporan terkait pelayanan publik.
“Hal-hal yang berkaitan dengan masalah di lingkungan sebenarnya bisa langsung dilaporkan. Pemprov DKI Jakarta punya banyak kanal pengaduan, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujarnya.
Selain JAKI, Arifin juga menyinggung sistem Citizen Relation Management (CRM) yang selama ini digunakan pemerintah untuk memantau dan merespons laporan masyarakat secara cepat. Melalui sistem itu, laporan warga, seperti jalan berlubang, saluran air tersumbat, hingga masalah fasilitas publik dapat segera diteruskan kepada unit kerja terkait.
Menurut Arifin, partisipasi masyarakat dan mahasiswa menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan persoalan di kota yang padat aktivitas seperti Jakarta Pusat. Ia berharap kalangan mahasiswa tidak berhenti menyampaikan kritik, sepanjang disertai data dan fakta di lapangan.
“Saya sangat senang sudah dibantu oleh teman-teman BEM STIAMI. Saya berharap ke depan kita dapat terus berkolaborasi agar bisa lebih memajukan masyarakat dan Kota Jakarta Pusat,” katanya.
Bagi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat, pertemuan dengan organisasi kemahasiswaan bukan hal baru. Pemerintah kota membuka ruang dialog bagi berbagai kelompok mahasiswa yang ingin menyampaikan gagasan, kritik, maupun aspirasi masyarakat. Pemerintah kota menilai kampus dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat praktik dialog publik yang terbuka dan partisipatif.
Dari ruang diskusi semacam itulah, berbagai persoalan kota diharapkan dapat ditemukan solusinya tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari generasi muda yang kelak akan menjadi pengelola kota di masa depan.
Pewarta: Denny
Editor : Linda Fang

















