Breaking News

Home / Buol / Daerah / Kesehatan / Sulteng

Senin, 23 Maret 2026 - 17:56 WIB

Masuk Sadar, Pulang Tak Bernyawa: Dua Hari yang Mengubah Nasib Israfil

Foto Istimewa Ilustrasi

Foto Istimewa Ilustrasi

Tinombala.com, Buol Sulawesi Tengah — Kematian Israfil Siyatan, 52 tahun, menyisakan jeda panjang antara tindakan medis dan penjelasan yang utuh.

Warga Kelurahan Leok I, Kabupaten Buol, itu datang ke RSUD Mokoyulri pada Minggu pagi, 14/03/2026, dengan keluhan sakit lambung. Ia masih sadar. Bahkan masih bisa duduk dan berjalan, meski menahan nyeri.

Dua hari kemudian, Rabu, 18 Maret, ia meninggal dunia. Sejak keluar dari ruang operasi, ia tak pernah sadar kembali. Di antara dua hari itu, tersusun rangkaian keputusan medis yang kini dipertanyakan keluarga.

Waktu yang Terlewat di IGD

Hari pertama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) berlalu tanpa diagnosis spesifik dari dokter spesialis. Pemeriksaan lanjutan, menurut keluarga, baru dilakukan keesokan harinya.
“Dari masuk IGD sampai dipindahkan ke ruangan, kami hanya menunggu,” kata Rosma, istri korban di hadapan wartawan Minggu, 22/03/2026.

Dalam kasus dugaan perforasi lambung maupun usus waktu adalah penentu. Jam, bahkan menit, bisa mengubah arah keselamatan pasien.

Di titik ini, muncul dugaan awal apakah terjadi delay in diagnosis dan delay in treatment?

Diagnosis yang Bergeser
Senin pagi, 15 Maret 2026, dokter bedah Eka Nova Sumarauw menyampaikan pada Rosma adanya kebocoran usus Israfil Operasi disebut harus segera dilakukan.

Namun setelah operasi, penjelasan berubah arah.

Rosma menerima keterangan berbeda dari Aras dokter anestesi yang bocor disebut lambung, bukan usus.

Perbedaan ini bukan sekadar istilah. Ia menyentuh inti penanganan diagnosis, strategi operasi, hingga risiko yang ditanggung pasien.

Apakah ini persoalan komunikasi? Atau tanda ketidaksinkronan dalam tim medis?

Operasi yang Dimajukan

Rosma menambahkan Operasi semula dijadwalkan pukul 16.00 WITA. Lalu dimajukan dua jam lebih cepat, menjadi pukul 14.00.

Baca Juga:  Mutasi Pejabat, Polres Tolitoli Ganti Wakapolres hingga Kasat Lantas

Perubahan ini terjadi tanpa penjelasan rinci kepada keluarga.

Dalam praktik medis, percepatan tindakan biasanya didorong kondisi yang memburuk. Namun keluarga melihat Israfil masih sadar sebelum masuk ruang operasi.

Pertanyaan pun mengemuka apa yang berubah dalam dua jam itu?

Keluarga mengaku tidak memperoleh penjelasan utuh mengenai risiko, alternatif tindakan, maupun kemungkinan rujukan.
Persetujuan operasi diberikan saat pasien tengah kesakitan.

Padahal, informed consent bukan sekadar tanda tangan. Ia menuntut pemahaman tentang apa yang akan dilakukan, dan apa yang mungkin terjadi. Apakah keputusan diambil dalam ruang yang cukup jernih?

Sunyi Setelah Operasi

Operasi selesai. Israfil dipindahkan ke ICU. Sejak saat itu, ia tak pernah sadar.
Dua hari berlalu tanpa perubahan berarti. Hingga akhirnya, ia dinyatakan meninggal dunia.

Dalam dunia medis, kondisi ini bisa dipicu banyak hal efek anestesi, infeksi berat, hingga kegagalan organ. Namun tanpa penjelasan yang terbuka, penyebabnya tinggal dugaan.

Tanpa Rujukan, Minim Penjelasan
Keluarga juga mempertanyakan tidak adanya opsi rujukan ke rumah sakit lain.
Padahal sebelum operasi, pasien dinilai masih dalam kondisi relatif stabil.

Lebih jauh, keluarga mengaku tidak pernah mendapat penjelasan rinci mengenai apa yang sebenarnya ditangani dalam operasi usus, lambung, atau keduanya. Minimnya informasi ini memperlebar ruang spekulasi.

Konfirmasi yang Belum Terjawab

Demi menjaga asas keberimbangan, redaksi Tinombala.com telah mengajukan sejumlah pertanyaan konfirmasi lewat telepon WhatsApp, atau Cat Wahtsap Senin,23/3/2026 kepada dokter spesialis Anestesi, dokter Spesialis Bedah, Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Namun hingga berita ini diturunkan, ketiga dokter spesialis tersebut belum memberikan jawaban. Upaya konfirmasi yang dilakukan belum mendapat tanggapan.

Ketiadaan penjelasan ini

memperpanjang daftar pertanyaan yang belum terjawab mulai dari waktu penanganan, perbedaan diagnosis, hingga keputusan medis yang diambil.
Di tengah kekosongan informasi itu, dugaan keterlambatan penanganan kembali menguat.

Baca Juga:  Jari Bocah Buol Bengkak Terjepit Cincin, Damkar Turun Tangan Tengah Malam

Sementara itu, tudingan “malpraktik” yang disuarakan keluarga tetap berada pada ranah dugaan, menunggu pembuktian melalui mekanisme medis dan hukum yang berlaku.

Jika seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar, semestinya setiap keputusan medis dapat ditelusuri dan dijelaskan secara terbuka.

Namun selama pertanyaan tentang waktu penanganan, perbedaan diagnosis, hingga alasan percepatan operasi belum terjawab utuh, ruang dugaan kelalaian itu tetap ada. (*/Red)

Share :

Baca Juga

Bukittinggi Sumatera

100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Siapkan Sarapan Gratis untuk Warga dan Wisatawan

Palu

Setelah Bendahara Dan Kasubag Perencana Diperiksa, Kini Mantan Kaban & Sekretaris BPKAD Buol Hadiri Panggilan Aspidsus Kejati Sulteng

Sigi Sulteng

Golkar Sigi Gelar Muscam di Pipikoro, Target Konsolidasi Hadapi Pemilu 2029

Bukittinggi Sumatera

Bukittinggi Bersolek: Kota Mulai Berpihak pada Pejalan Kaki, Jam Gadang Jadi Titik Awal

Bukittinggi Sumatera

Evakuasi Kilat di Sungai Landia, Satu Korban Tewas dalam Longsor Agam

Sulteng

Momentum Iduladha, Kejari Tolitoli Sembelih Empat Sapi Kurban untuk Warga

Daerah

Dugaan Rp100 Juta di Balik Jeruji Tinombo

Buol

Bupati Buol Tekankan Pentingnya Kemitraan dengan Media
error: Konten ini dilindungi hak cipta!