Ruas Tolitoli–Buol Jadi Sorotan, Posko Siaga Ada Lubang Tetap Menganga
Tinombala.com, Tolitoli Sulteng — Menjelang arus mudik Lebaran 2026, janji kesiapan infrastruktur kembali diuji di Sulawesi Tengah. Di atas kertas, Balai Pelaksana Jalan Nasional Sulawesi Tengah telah menggelar posko siaga Pekerjaan Umum untuk memastikan kelancaran lalu lintas di jalan nasional. Namun di lapangan, cerita berbeda mengemuka, terutama di ruas yang menghubungkan Tolitoli dan Buol.
Pantauan pada Senin, 16 Maret 2026, menunjukkan kondisi jalan nasional di jalur Tinabogan–Bambuan (dalam kota Tolitoli) hingga Lingadan (menuju dalam kota Buol) jauh dari kata layak untuk puncak arus mudik. Di sejumlah titik, lubang menganga di badan jalan, tak sedikit yang berlubang membuat pengendara sepeda motor kehilangan kendali.
Di beberapa segmen, perbaikan memang pernah dilakukan. Aspal tambalan terlihat menutup sebagian lubang. Tapi hasilnya justru menghadirkan persoalan baru, permukaan jalan menjadi tidak rata, bergelombang, dan berisiko bagi kendaraan yang melaju dengan kecepatan sedang hingga tinggi.
Tambal sulam itu seperti solusi setengah hati menutup masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, ‘ ke mana arah proyek preservasi jalan nasional bernilai ratusan miliar rupiah yang sedang berjalan? Publik melihat adanya jarak antara perencanaan dan realisasi di lapangan. Di saat BPJN membentuk posko siaga untuk menghadapi lonjakan mobilitas Lebaran, sejumlah titik krusial justru luput dari penanganan cepat.
Bagi pengendara, terutama pemudik roda dua, situasi ini bukan sekadar soal kenyamanan. Lubang jalan yang tersebar acak di lintasan utama menjadi ancaman nyata keselamatan, dalam kondisi lalu lintas padat, ruang untuk menghindar semakin sempit. Satu detik lengah bisa berujung kecelakaan.
Sorotan masyarakat pun menguat
Jalan negara seharusnya menjadi urat nadi mobilitas yang terjaga kualitasnya, terlebih pada momen krusial seperti mudik Lebaran. Ketika kerusakan dibiarkan berlarut, kehadiran posko siaga terasa simbolik. Ada secara administratif, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan di lapangan.
Kini, publik menunggu langkah konkret.
Bukan sekadar tambalan cepat, melainkan perbaikan menyeluruh yang menjamin keselamatan pengguna jalan. Sebab di jalur mudik, setiap lubang bukan hanya soal infrastruktur, ia bisa menjadi titik rawan yang mempertaruhkan nyawa pengendara. (**/ Aco)
















