Breaking News

Home / Buol / Sulteng

Sabtu, 21 Maret 2026 - 19:55 WIB

Sungkeman di Hari Fitri, Potret Sunyi Keluarga Bupati Buol

Foto Istimewa Bupati Bersama Ketua PKK Buol

Foto Istimewa Bupati Bersama Ketua PKK Buol

Tinombala.com, Buol Sulawesi Tengah — Di tengah riuh takbir dan silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah, sebuah momen sederhana berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Buol, Sabtu pagi, 21/03/2026. Tanpa gemerlap protokoler, Ketua TP PKK Buol, Shinta Andriani Ningsih, menundukkan diri. Ia bersimpuh, melakukan sungkeman kepada suaminya, Bupati Buol Risharyudi Triwibowo.

Gestur itu singkat, tetapi sarat makna. Dalam tradisi, sungkeman bukan sekadar ritual. Ia adalah bahasa diam tentang hormat, cinta, dan pengakuan atas ikatan yang tak selalu terucap. Di ruang privat itu, relasi suami-istri tampil tanpa jabatan, tanpa atribut kekuasaan.

Namun, suasana hangat itu menyimpan kekosongan yang tak kasatmata.

Tiga anak pasangan tersebut tidak berada di Buol. Mereka tengah menempuh pendidikan di Jakarta. Lebaran yang identik dengan kebersamaan keluarga justru dijalani dalam jarak. Yang tersisa adalah doa—mengalir dalam diam, menembus batas ruang.

“Idulfitri bukan hanya tentang perayaan,” kata Risharyudi. “Ini momentum kembali ke fitrah, memperbaiki diri, dan mempererat hubungan keluarga.”

Ia menyadari, keutuhan keluarga tak selalu ditentukan oleh kehadiran fisik. Dalam kondisi tertentu, jarak justru menguji ketulusan. “Walaupun anak-anak kami jauh, doa orang tua tidak pernah putus.”

Shinta menyampaikan hal serupa, dengan nada yang lebih personal. Sebagai seorang ibu, ia mengakui ada ruang haru yang sulit disembunyikan ketika Lebaran tak diisi dengan kebersamaan utuh. Tapi ia memilih melihatnya sebagai bagian dari perjalanan.

“Idulfitri mengajarkan keikhlasan,” ujarnya. “Saling menguatkan, menjaga cinta, meski dipisahkan jarak.”

Di titik itu, perayaan berubah menjadi refleksi. Lebaran tidak lagi semata tentang hidangan atau kunjungan, melainkan tentang bagaimana keluarga bertahan dalam keterbatasan.

Kisah kecil di Buol ini mencerminkan realitas yang lebih luas. Banyak keluarga Indonesia merayakan Idulfitri dalam formasi yang tak lagi lengkap dipisahkan oleh pendidikan, pekerjaan, atau keadaan. Tradisi tetap dijalankan, tetapi maknanya bergeser: dari kebersamaan fisik menjadi kedekatan emosional.

Baca Juga:  Di Balik PETI Pohuwato, Jejaring Modal, Pola Senyap, Dan Hukum Yang Diuji

Di penghujung perayaan, pesan yang disampaikan keduanya serupa ditujukan kepada masyarakat Buol. Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh, melainkan dalam ketulusan menerima keadaan, saling memaafkan, dan menjaga ikatan.

Lebaran, pada akhirnya, adalah tentang pulang. Bukan hanya ke rumah, tetapi ke hati yang lapang menerima segala yang belum sempurna.

Pewarta : Reiyna

Editor : Linda Fang 

Share :

Baca Juga

Sulteng

Sentra Nipotove Palu Berikan Bantuan Dinas Sosial Kabupaten Buol

Buol

Bupati Buol Himbau Peserta Kontingen POL PP-Damkar Menjaga Nama Baik Kabupaten Buol Ditingkat Provinsi

Buol

Tak Banyak yang Tahu, Anggota DPRD Buol Ini Ternyata Pernah Mengabdi dari Garis Depan Kesehatan

Buol

THR ASN dan DPRD Buol Cair: Rp17,6 Miliar Mengalir, Ribuan Pegawai Menanti Dampaknya

Palu

Pemkot Palu Gelar Pasar Murah Jelang Iduladha, Warga Serbu Bahan Pangan Bersubsidi

Palu

Gubernur Sulteng Menggelar Rapat Kordinasi Pengembangan Pendidikan Bersama Seluruh Rektor Se-Sulteng

Buol

Terkait Unggahan Di Medsos, Akun @Riyankostlet Akan Di Polisikan

Buol

Subsatgas Dokes Pastikan Kesehatan OMP Pasca Penetapan Bupati dan Wabup Buol Terpilih
error: Konten ini dilindungi hak cipta!