TINOMBALA.COM, Buol Sulawesi Tengah – Pemandangan yang tak biasa terlihat di Desa Matinan, Kecamatan Gadung, Kabupaten Buol. Di tengah aktivitas warga mengambil material pasir dan sirtu di aliran sungai desa, seorang perempuan tampak ikut bekerja bersama masyarakat.
Perempuan itu adalah Shinta Andriani Ningsih, istri Bupati Buol Risharyudi Triwibowo.
Dengan mengenakan pakaian sederhana dan berbekal sekop di tangan, Sinta terlihat turun langsung ke lokasi pengambilan material pasir sirtu yang digunakan untuk membantu kebutuhan pembangunan rumah warga Desa Matinan. Ia tidak sekadar datang meninjau, tetapi ikut mengangkat dan memasukkan pasir ke dalam gerobak tradisional bersama masyarakat setempat.
Kehadirannya sontak menarik perhatian warga. Di bawah terik matahari, Sinta tampak berbaur tanpa jarak, menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat hidup di tengah masyarakat pedesaan.
Menurut informasi yang dihimpun wartawan media ini, material pasir dan sirtu yang diambil dari sungai tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan rumah warga. Aktivitas itu dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan dan saling membantu antarwarga.
Di sela kegiatan, Sinta juga menyampaikan pesan yang mendapat perhatian masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya pendidikan bagi generasi muda, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga petani.
“Walaupun bapaknya seorang petani, anak-anak harus tetap semangat sekolah. Pendidikan sangat penting untuk masa depan dan regenerasi daerah kita,” ujarnya di hadapan warga.
Pesan sederhana itu disambut hangat masyarakat yang hadir. Bagi banyak warga, kehadiran istri orang nomor satu di Buol yang ikut bekerja bersama mereka bukan hanya simbol kedekatan pemerintah dengan rakyat, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pemandangan seorang istri kepala daerah yang turun langsung ke sungai, memegang sekop, dan membantu warga mengangkut pasir menjadi cerita yang jarang ditemukan. Dari Desa Matinan, pesan tentang kerja keras, gotong royong, dan pentingnya pendidikan kembali disuarakan dengan cara yang sederhana, namun meninggalkan kesan mendalam. (MD)
Editor : Linda Fang



















