Sulteng — Lima menit setelah lepas landas dari Bandara Mutiara, Palu, pada 29 Maret 1977, pesawat Twin Otter DHC-6 milik Merpati Nusantara Airlines hilang kontak. Pesawat bernomor registrasi PK-NUP dengan kode penerbangan MZ-516 itu kemudian diketahui jatuh di lereng Gunung Tinombala, Sulawesi Tengah.
Di antara penumpangnya, Haji Salim Midu, saudagar asal Buol, menjadi salah satu penyintas tragedi tersebut. Perjuangannya bertahan hidup menjadi bagian penting dari catatan kecelakaan penerbangan yang dikenang hingga kini.
Pesawat itu dijadwalkan melayani rute Manado–Luwuk–Palu–Tolitoli. Pesawat membawa 20 penumpang dan tiga awak. Setelah dinyatakan hilang, operasi pencarian segera digelar dengan mengerahkan sembilan pesawat, personel Paskhas TNI AU, serta pasukan lintas udara TNI AD.
Namun, pencarian belum membuahkan hasil hingga 5 April 1977. Pada hari itu, kopilot Masykur bersama dua penumpang, Hasan Tawil dan Haji Salim Midu, muncul di kawasan transmigrasi Ongka Malino, sekitar 70 kilometer di sebelah utara Gunung Tinombala.
Kemunculan mereka mengakhiri penantian panjang dalam operasi pencarian. Jarak yang jauh dari lokasi kecelakaan dan medan yang sulit menjadikan perjalanan para penyintas menuju kawasan berpenduduk sebagai bagian penting dari kisah tragedi tersebut.
Mengenang Perjuangan Para Penyintas
Empat puluh sembilan tahun telah berlalu sejak kecelakaan itu. Kisah Haji Salim Midu kembali mengingatkan publik pada perjuangan manusia menghadapi situasi ekstrem dan upaya bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Mengenang peristiwa ini bukan untuk membuka kembali luka keluarga korban, melainkan merekam sejarah dan menghormati perjuangan para penyintas. Tragedi Tinombala 1977 menjadi pengingat tentang risiko penerbangan sekaligus pentingnya operasi pencarian dan penyelamatan ketika sebuah pesawat dinyatakan hilang.





















