Breaking News

Home / Nasional

Jumat, 23 Januari 2026 - 00:39 WIB

Amaran WHO Diabaikan, HIV Terus Mengganas

Ilustrasi cacar monyet atau monkeypox

Ilustrasi cacar monyet atau monkeypox

Tinombala.com – Filipina sedang menyaksikan satu kegagalan kesehatan awam yang telanjang. Bukan kerana virus itu terlalu canggih, tetapi kerana negara ini diduga terlalu lambat bertindak. Setiap hari pada 2025, 61 rakyat Filipina diduga disahkan menghidap HIV-angka yang cukup untuk memenuhi sebuah bilik darjah, setiap hari, tanpa henti.

Pertumbuhan Kesehatan Sedunia (WHO) sudah lama mengangkat bendera merah. Filipina, bersama Fiji dan Papua New Guinea, diletakkan dalam senarai negara Asia Pasifik yang terus membiarkan HIV merebak. Tetapi amaran itu diduga tampaknya tenggelam dalam hiruk-pikuk politik domestik dan kealpaan birokrasi.

Sejak 2010, jangkitan HIV di Filipina melonjak enam kali ganda. Bukan dalam tempoh perang atau bencana alam,tetapi dalam suasana “normal” yang kononnya stabil. Lelaki muda yang melakukan hubungan seks dengan lelaki menjadi kelompok paling terjejas, sementara negara masih teragak-agak untuk berbicara terbuka tentang seks, pendidikan kesihatan, dan stigma.

Lebih mencemaskan, wabak ini semakin muda. Kanak-kanak dan remaja kini bukan sekadar statistik pinggiran. Kes dalam kalangan individu bawah 15 tahun meningkat lebih 100 peratus dalam tempoh lima tahun. Ini bukan lagi soal gaya hidup berisiko; ini soal kegagalan sistem melindungi generasi seterusnya.

Kerajaan gemar menenangkan diri dengan angka rawatan dan kempen kesedaran. Tetapi kematian tidak membaca poster. Sejak 2016, lebih 500 kematian direkodkan setiap tahun, dan jumlah itu terus bertambah. Pesakit datang lebih awal, kata data namun tetap mati. Sesuatu jelas tidak berfungsi.

Metro Manila dan wilayah sekitarnya menjadi pusat penularan, seiring dengan mobiliti tinggi, kemiskinan bandar, dan akses kesihatan yang timpang. Pekerja migran yang menjadi tulang belakang ekonomi- turut terperangkap dalam kitaran jangkitan, stigma, dan senyap.

Baca Juga:  Agus Duka Pembangunan Sumur Bor Dari BWS Tidak Bermanfaat Bagi Petani

HIV di Filipina bukan wabak yang datang secara tiba-tiba. Ia dibesarkan perlahan-lahan oleh dasar separuh masak, pendidikan seks yang malu-malu, dan ketakutan politik untuk berdepan realiti sosial. Negara ini tidak kekurangan data. Ia kekurangan keberanian.

Jika trend ini berterusan, Filipina bukan sekadar mencatat rekod buruk di Asia Pasifik. Ia sedang menyerahkan masa depan generasi mudanya kepada virus yang sepatutnya boleh dikawal—jika negara benar-benar mahu mengawalnya. (Sumber Berita BH Online)

Share :

Baca Juga

Jabodetabek

Kerja Bakti PPSU dan SDA, Genangan di Cengkareng Barat Surut

Nasional

Dewan Pers Sosialisasikan Pendataan Media di HPN 2026 Banten

Jabodetabek

Berbagi Kasih Ramadan IWAPI DPC Kepulauan Seribu bagian dari IWAPI DPD DKI Jakarta Salurkan 500 Paket Sembako di DKI

Nasional

BAZNAS RI Tetapkan Zakat Fitrah 2025 Rp47 Ribu

Nasional

Ribuan Wartawan Ramaikan Jalan Sehat HPN 2026 di Banten

Jabodetabek

Mudik Gratis dari Monas: Antara Keselamatan, Kuota, dan Janji Fasilitas di Ibu Kota

Jabodetabek

Libur Sekolah, Ratusan Pelajar Berlaga di Kejuaraan Atletik Jakarta Selatan

Nasional

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Polres Buol Bersama Stakeholder Gelar Penanaman Jagung Serentak
error: Konten ini dilindungi hak cipta!