Tinombala.com, Palu – Ketulusan Rusman, nelayan sederhana asal Kabupaten Buol yang akrab disapa Cici, menggugah perhatian banyak pihak. Aksi kemanusiaannya menyelamatkan 15 Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina yang terdampar di perairan Buol mendapat apresiasi langsung dari Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah
Apresiasi tersebut disampaikan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur dr Reny Lamajido melalui pesan WhatsApp pada Butol Post, Minggu malam (25/1/2026). Ia menyatakan rasa hormat dan terima kasih atas keberanian serta kepedulian Rusman yang dinilai telah melampaui panggilan profesinya sebagai nelayan.
“Secara kemanusiaan, selaku Gubernur saya sangat mengapresiasi perjuangan beliau. Pak Rusman telah menunjukkan kepedulian yang luar biasa dengan menyelamatkan belasan nyawa manusia. Salam dan hormat saya untuk Pak Rusman, pejuang kemanusiaan,” ujar Anwar Hafid.
Tak berhenti pada apresiasi moral, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga menyatakan komitmen bantuan nyata. Anwar Hafid bersama dr Reny Lamajido memastikan Pemprov Sulteng akan membantu Rusman berupa alat tangkap ikan sesuai kebutuhan yang bersangkutan.
“Insyaallah, atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kami akan memberikan bantuan alat tangkap sesuai permintaan Pak Rusman,” tegasnya.
Aksi Rusman dinilai menjadi potret kuat nilai kemanusiaan di wilayah pesisir Sulawesi Tengah.,bahwa keberanian, empati, dan solidaritas dapat tumbuh dari masyarakat kecil yang bekerja dalam senyap, namun berdampak besar bagi kehidupan sesama manusia.
Diberitakan Tinombala sebelumnya Pak Rusman “Cici” dan Laut yang Mengajarkan Arti Kemanusiaan

Foto Istimewa
Laut Buol pagi itu tidak berbeda dari hari-hari lain. Ombak bergulung tenang, angin membawa bau asin, dan perahu-perahu kayu nelayan bergerak pelan seperti denyut nadi kehidupan pesisir. Di salah satu perahu sederhana itulah Pak Rusman yang lebih dikenal sebagai Cici menjalani rutinitasnya: melaut, mencari ikan, menyambung hidup, menghidupi keluarga.
Ia bukan tokoh besar. Tak ada pangkat, tak ada seragam, tak ada atribut kehormatan. Ia hanya seorang nelayan kampung, dengan kaos lusuh, kulit legam terbakar matahari, dan tangan yang lebih akrab dengan jala ketimbang dengan pujian.
Namun laut, seperti sejarah, selalu memilih caranya sendiri untuk melahirkan pahlawan.
Di hamparan biru yang tak bertepi, sekelompok warga negara asing asal Filipina telah berhari-hari terombang-ambing. Hampir dua pekan. Tanpa kepastian arah, tanpa air bersih, tanpa logistik, dan tanpa harapan yang utuh. Laut yang luas berubah menjadi ruang penantian antara hidup dan mati.
Sampai akhirnya mereka bertemu Pak Rusman.
Tak ada negosiasi panjang. Tak ada kalkulasi untung-rugi. Tak ada pertanyaan tentang kewarganegaraan, identitas, atau administrasi. Yang ada hanya satu keputusan sederhana yang lahir dari nurani menolong.
Di situlah kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling jujur.
Pak Rusman mengulurkan tangan. Mengangkat tubuh-tubuh yang lemah. Menyelamatkan nyawa-nyawa yang hampir padam. Bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai tokoh, tapi sebagai manusia kepada manusia lain.
Bagi mereka yang diselamatkan, Pak Rusman adalah kehidupan kedua.
Bagi keluarga mereka di Filipina, ia adalah kabar yang membatalkan duka.
Bagi Buol, ia adalah wajah kemanusiaan yang lahir dari kesederhanaan.
Dalam dunia yang semakin bising oleh simbol, jabatan, dan pencitraan, kisah Pak Rusman justru hadir dalam kesunyian. Tanpa panggung. Tanpa seremoni. Tanpa siaran langsung. Tanpa spanduk ucapan terima kasih.
Ia kembali melaut.
Kembali ke perahu kayunya.
Kembali ke hidupnya yang sederhana.
Seolah tak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa.
Padahal, ia telah melakukan hal yang paling langka hari ini: memilih kemanusiaan, tanpa syarat.
Pak Rusman mengingatkan kita bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir dari kekuasaan, tidak selalu datang dari institusi, dan tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan. Kadang, ia lahir dari keputusan sunyi seorang nelayan di tengah laut lepas.
Dan laut Buol, pagi itu, tidak hanya menjadi ruang pencarian ikan.
Ia menjadi saksi lahirnya sebuah kemuliaan kecil yang maknanya besar
bahwa manusia masih bisa menjadi penolong bagi manusia lain.Tanpa jubah.
Tanpa nama besar.Tanpa panggung sejarah. Hanya hati, perahu kayu, dan keberanian untuk peduli. (Faisal)



















