Tinombala.com, Gorontalo — Sedimentasi lumpur tambang yang menyumbat jaringan irigasi di sejumlah wilayah Pohuwato akhirnya ditangani. Tim YR menerjunkan alat berat untuk mengeruk sedimen yang selama ini menghambat aliran air ke persawahan dan memicu gagal tanam.
Langkah ini diambil setelah keluhan petani mencuat dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Pohuwato. Dalam forum tersebut, petani menyampaikan krisis air irigasi yang kian parah akibat endapan lumpur di saluran utama dan sekunder.
YR menyatakan pengerahan alat berat dilakukan tanpa menunggu proses panjang. Normalisasi menyasar beberapa titik di Kecamatan Buntulia, Duhiadaa, dan Marisa. “Hari ini kami bergerak bukan untuk memperdebatkan siapa benar atau salah, tapi agar petani bisa kembali menanam,” ujar YR, Jumat, 30/01/2026.
Menurutnya, sedimentasi tambang telah masuk hingga ke saluran irigasi dan areal persawahan, membuat aliran air tersendat. Upaya normalisasi ini, kata YR, merupakan bentuk kepedulian terhadap petani yang terdampak langsung dan kehilangan musim tanam.
YR menegaskan kegiatan tersebut murni inisiatif timnya sebagai penambang rakyat yang hidup berdampingan dengan petani dan nelayan. Ia menyebut pertanian sebagai denyut nadi ekonomi warga Pohuwato yang harus dijaga keberlanjutannya.
Apresiasi datang dari kelompok petani pemakai air. Abdurrahman Lukum, perwakilan P3A, menyambut baik langkah tim YR yang turun langsung ke lapangan. “Atas nama petani, kami berterima kasih. Harapannya kegiatan ini berkelanjutan, terutama saat curah hujan tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran tim YR memberi harapan bagi petani yang lama bergulat dengan dampak sedimentasi. “Kalau bukan YR, siapa lagi yang membantu petani,” kata Abdurrahman. (J/Red)
















