Gowa, Tinombala.Com// Disebuah desa kecil, di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan nama AL (32) menjadi sinonim dengan ketakutan dan kecemasan. Pria itu dikenal diduga karena kejahatannya yang meliputi pemerkosaan dan perampokan, meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga. Warga desa yang awalnya takut, perlahan mulai berani berdiskusi dan desas-desus tentang tindakan AL semakin membesar.
Namun, kesabaran warga akhirnya habis setelah kejadian tragis yang tidak dapat diterima. Suatu malam, mereka berkumpul dengan sorot mata penuh amarah dan keputusasaan, mencari AL dengan teriakan dan sumpah serapah. Ketika AL ditemukan, tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau belas kasihan. Kerumunan yang marah melampiaskan semua dendam mereka, dan AL tewas diseret di tangan massa.

Kematian AL menjadi pengingat pahit tentang keadilan yang diambil di tangan sendiri, dan tentang konsekuensi mengerikan dari tindakan kejahatan yang tidak tersentuh hukuman. Namun, bagi warga desa yang telah lama menderita, kematiannya membawa sebuah kelegaan yang getir, harapan akan kedamaian yang telah lama hilang.
Cerita ini menjadi peringatan tentang pentingnya keadilan yang adil dan efektif, serta bahaya dari tindakan main hakim sendiri. (*)

















