Tinombala.com, Buol – Apel aparat Desa Momunu digelar Rabu, (21/01/2026) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Buol, Arfandi Wehantow, berdiri memimpin barisan yang sebelumnya nyaris tak pernah lengkap. Setelah apel singkat itu, para aparat diarahkan melakukan kerja bakti membersihkan kantor dan halaman balai desa-bangunan yang belum lama ini justru lebih akrab dihuni sapi ketimbang perangkat desa.
Kerja bakti itu bukan sekadar agenda kebersihan. Ia menjadi semacam “ritual pemulihan” setelah sidak mendadak Pemdes Buol menemukan Kantor Desa Momunu tanpa satu pun aparatur. Yang setia berjaga justru beberapa ekor ternak, seolah resmi naik pangkat menjadi staf desa tak bergaji dan tak pernah absen.
Pemandangan itulah yang memicu kekecewaan kemarahan sekaligus rasa miris. Negara hadir lewat sidak; aparat desa baru muncul setelahnya. Apel dan sapu lidi lalu dijadikan penanda bahwa kantor desa kembali diperuntukkan bagi manusia-bukan kandang ternak.
Namun pertanyaannya, apakah kedisiplinan aparatur hanya hidup ketika sidak dilakukan? Ataukah sapi-sapi itu sekadar dikandangkan sementara, menunggu pengawasan kembali lengah?
Di Momunu, negara sempat absen, lalu datang mendadak. Aparat menyusul belakangan. Sapi-sapi telah lebih dulu mengisi kekosongan itu. Apel dan kerja bakti mungkin mengembalikan wajah kantor desa. Tapi soal tanggung jawab, ia hanya benar-benar hidup ketika tak perlu sidak untuk diingatkan. (Faisal/Red)















