Breaking News

Home / Cerpen Novel

Kamis, 16 April 2026 - 00:11 WIB

Aroma Kebohongan Cerbung, bagian Dua

Foto Istimewa ilustrasi

Foto Istimewa ilustrasi

TINOMBALA.COM – Dendam yang Tumbuh Diam-Diam

Sejak malam itu, hidupku tidak lagi sama.

Bayangan Renata dan pria itu terus menghantui pikiranku. Bukan hanya karena pengkhianatan yang kulihat dengan mata kepala sendiri, tapi karena cara Renata menatapku malam itu… seolah dia tidak takut.

Seolah dia menang.

Aku mencoba menenangkan diri. Tapi satu hal yang terus mengusik adalah wajah sahabatku… istri dari pria itu.

Dia tidak tahu apa-apa.
Masih tersenyum, masih percaya, masih memanggil suaminya dengan penuh cinta.

Dan itu membuat dadaku semakin sesak.

Hari demi hari berlalu. Aku mulai memperhatikan perubahan kecil.
Suaminya sering pulang larut.
Alasannya selalu sama—kerja, rapat, urusan penting.

Tapi aroma itu… kembali tercium.
Aroma kebohongan yang kini semakin tajam.

Aku tidak bisa diam lagi.

Dengan hati bergetar, aku akhirnya memutuskan untuk bicara.
Kukumpulkan keberanian, lalu kutemui sahabatku itu.

“Aku harus bilang sesuatu… dan ini mungkin akan menyakitkan,” kataku pelan.

Dia menatapku bingung, lalu tersenyum kecil.
“Kamu kenapa serius banget?”

Aku menelan ludah.
“Suamimu… aku melihatnya dengan perempuan lain.”

Sunyi.

Senyumnya perlahan hilang.

Awalnya dia tidak percaya. Bahkan sempat tertawa kecil, seolah aku sedang bercanda. Tapi ketika kulihat matanya mulai berkaca-kaca, aku tahu… hatinya mulai retak.

Hari itu menjadi awal dari perubahan besar.

Dia tidak langsung marah. Tidak langsung menangis.
Justru… dia berubah menjadi diam.

Terlalu diam.

Beberapa hari kemudian, aku melihat sesuatu yang mengejutkan.

Baca Juga:  Mafia WiFi Ilegal Kuasai Parigi Moutong, Bisnis Puluhan Juta Sebulan Diduga Beroperasi Tanpa Tersentuh Hukum

Sahabatku yang dulu lembut itu… mulai berbeda.
Dia mulai berdandan lebih rapi, lebih berani, lebih… tajam.

Dan suatu sore, aku melihatnya.

Dia duduk di sebuah kafe.
Tidak sendiri.

Di hadapannya, seorang pria lain tersenyum padanya.
Bukan senyum biasa—senyum yang penuh arti.

Aku tertegun.

Apakah ini… balas dendam?

Ketika aku mencoba mendekat, sahabatku melihatku.
Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.

Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya.

“Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan.”

Jantungku berdegup kencang.

Ini bukan lagi soal perselingkuhan.
Ini tentang luka… yang berubah menjadi dendam.

Dan dendam… tidak pernah berakhir dengan baik.

Namun cerita belum selesai.

Karena di waktu yang sama, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Suami itu… mulai curiga.

Dan suatu malam, saat semuanya terasa sunyi, pintu rumah sahabatku terbuka dengan keras.

Suaminya berdiri di sana.
Wajahnya penuh amarah.

“Jadi ini balasanmu?” bentaknya.

Sahabatku berdiri, menatap lurus tanpa takut.

“Setidaknya aku jujur dengan apa yang kulakukan.”

Udara terasa panas.

Dua orang yang dulu saling mencintai kini berdiri berhadapan… sebagai musuh.

Dan di luar sana, di balik bayangan gelap…
Renata masih tersenyum.

Seolah semua ini… adalah bagian dari permainan yang ia ciptakan.

Bersambung ke Bagian 3… mau lanjut ke terbongkarnya misteri Renata atau konflik rumah tangga makin panas?
Yukss kita ikuti terus.

Penulis Linda Fang 

Share :

Baca Juga

Cerpen Novel

Di sebuah Kampung yang Dulu Penuh Tawa dan Rasa Kekeluargaan, kini Tersisa Sunyi Menggantung di Antara Dinding Kenangan

Cerpen Novel

Selingkuh Itu Indah, Sampai Semua Hancur

Cerpen Novel

Aroma Kebohongan Cerbung bagian Satu