Breaking News

Home / Cerpen Novel

Kamis, 16 April 2026 - 00:29 WIB

Di sebuah Kampung yang Dulu Penuh Tawa dan Rasa Kekeluargaan, kini Tersisa Sunyi Menggantung di Antara Dinding Kenangan

Foto Istimewa Ilustrasi

Foto Istimewa Ilustrasi

TINOMBALA.COM — Dulu, nama papa F begitu harum. Ia dikenal sebagai sosok yang menjaga marwah keluarga, yang ringan tangan membantu siapa saja, yang selalu hadir saat ada duka maupun suka. Tidak ada acara keluarga tanpa jejak langkahnya. Tidak ada masalah tanpa usahanya untuk menyatukan.

Namun waktu berubah.

Sejak kepergiannya, seolah ikut terkubur pula nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi. “Anak dipangku, kemenakan dibimbing,” yang dahulu menjadi pegangan, kini hanya tinggal ungkapan tanpa makna.

Satu anak laki laki yang ia tinggalkan masih berdiri di tanah kelahiran ayahnya, tanah yang seharusnya menjadi tempat pulang, tempat merasa memiliki. Tapi nyatanya, mereka justru merasa seperti orang asing di kampung sendiri.

Saat ada kabar duka di keluarga besar, nama mereka tak lagi disebut. Tidak diundang, tidak diingat. Seakan hubungan darah itu terputus begitu saja bersama kepergian sang ayah.

Padahal mereka tidak pernah menuntut apa-apa.

Tidak pernah meminta warisan. Tidak pernah meminta bagian. Bahkan sekadar perhatian pun jarang mereka harapkan. Yang mereka inginkan hanyalah satu hal sederhana, dihargai. Diakui. Dipandang sebagai bagian dari keluarga.

Baca Juga:  THR ASN dan DPRD Buol Cair: Rp17,6 Miliar Mengalir, Ribuan Pegawai Menanti Dampaknya

Namun kenyataan berkata lain.

Keluarga yang dulu santun, kini lebih memilih memprioritaskan yang “ada” di dekat mereka. Yang terlihat. Yang mungkin lebih memberi keuntungan. Sementara dua anak itu perlahan dilupakan, seperti bayangan yang semakin pudar saat senja datang.

Malam-malam mereka sering diisi dengan diam. Bukan karena tidak ada yang ingin diceritakan, tapi karena sudah lelah berharap.

Kadang mereka bertanya dalam hati,
“Apakah salah jika kami hanya ingin dianggap ada?”

Angin kampung masih sama. Tanahnya masih sama. Bahkan rumah tua peninggalan ayahnya masih berdiri. Tapi rasa itu, rasa memiliki, rasa diterima, telah lama hilang.

Yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang ayah yang dulu begitu dicintai…
dan luka yang diam-diam mereka pendam sendiri….

Penulis Linda Fang

Share :

Baca Juga

Cerpen Novel

Selingkuh Itu Indah, Sampai Semua Hancur

Cerpen Novel

Aroma Kebohongan Cerbung, bagian Dua

Cerpen Novel

Aroma Kebohongan Cerbung bagian Satu