Breaking News

Home / Buol / Sulteng

Rabu, 29 April 2026 - 13:58 WIB

Perpustakaan Desa Tak Lagi Boleh Jadi Gudang Buku

Foto Istimewa Diskominfo - Wawan

Foto Istimewa Diskominfo - Wawan

TINOMBALA.COM, Buol Sulawesi Tengah — Ruang lantai dua Kantor Bupati Buol, Rabu, 29/04/2026, dipenuhi kepala desa, pengelola perpustakaan, dan sejumlah tokoh masyarakat. Mereka datang bukan untuk rapat anggaran atau urusan administrasi pemerintahan desa. Topik yang dibahas pagi itu justru soal yang kerap dianggap sepele, perpustakaan desa.

Di hadapan peserta, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Buol, Dr. Luciana Bakulu, berbicara lugas. Ia menilai banyak perpustakaan desa masih terjebak dalam pola lama, sekadar ruang penyimpanan buku yang sepi pengunjung dan minim aktivitas.

“Perpustakaan desa tidak boleh lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku berdebu,” kata Luciana saat membuka Sosialisasi Pengembangan Perpustakaan Desa.

Menurut dia, perpustakaan harus bertransformasi menjadi pusat belajar masyarakat sepanjang hayat. Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), perpustakaan di tingkat desa diharapkan tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan warga.

Di tempat itu, masyarakat dapat belajar keterampilan baru, memperoleh akses informasi, hingga mengembangkan kemampuan yang berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga.

Luciana mengingatkan para kepala desa agar tidak membiarkan fasilitas perpustakaan yang sudah ada mati suri. Ia meminta pemerintah desa menghidupkan kembali pojok baca dan memastikan perpustakaan benar-benar dimanfaatkan masyarakat.

“Literasi adalah jalan menuju kesejahteraan. Jika masyarakatnya cerdas dan literat, desa akan lebih cepat maju dan mandiri,” ujarnya.

Pesan yang lebih keras datang dari Wakil Bupati Buol, Dr. Moh. Nasir Dj Daimaroto, yang membuka kegiatan tersebut. Ia menyoroti fenomena perpustakaan desa yang memiliki bangunan fisik, tetapi nyaris tak memiliki aktivitas.

Menurut Nasir, keberadaan gedung perpustakaan semata tidak cukup jika tak diikuti program yang menyentuh kebutuhan warga.

Baca Juga:  Empat Sapi Kurban “Turun Gunung” ke Masjid Agung Buol, Pemprov dan Pemda Kompak Berbagi

“Masih banyak perpustakaan hanya berdiri sebagai simbol. Gedungnya ada, bukunya ada, tapi tidak hidup,” katanya.

Ia menyebut perpustakaan sebagai salah satu instrumen penting untuk memutus rantai kebodohan dan ketertinggalan di desa. Karena itu, seluruh desa dan kelurahan di Buol diminta membuktikan bahwa perpustakaan mereka benar-benar berfungsi.

“Ini bukan kegiatan seremonial. Ini tantangan bagi desa: apakah perpustakaannya hidup dan memberi manfaat atau hanya papan nama,” ujar Nasir.

Pemerintah Kabupaten Buol kini menghadapi pekerjaan rumah besar, memastikan semangat literasi tidak berhenti di ruang sosialisasi. Sebab, di banyak desa, persoalan literasi bukan hanya soal ketersediaan buku, melainkan juga bagaimana menghadirkan ruang belajar yang relevan bagi kehidupan warga sehari-hari.

Jika upaya itu berhasil, perpustakaan desa barangkali tak lagi identik dengan rak tua dan ruangan sunyi, melainkan menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat desa.

Pewarta: Reiyna
Editor: Linda Fang

Share :

Baca Juga

Morowali

DLH Pemprov Sulawesi Tengah: Wibawa Terkikis, Limbah Perusahaan Tambang Nikel Makin Buas Di Bungku Pesisir

Buol

84 Jemaah Haji Buol Siap Berangkat, Pemda Pastikan Antar Jemput Hingga Tuntas

Palu

Razia Penginapan Di Palu, Polda Sulteng Amankan Sejumlah Pasangan Dalam Operasi Pekat Tinombala 2026

Poso

Ancaman Saat Liputan Galian C di Poso, Empat Wartawan Akan Didampingi LBH TONAKODI Lapor ke Polda Sulteng

Sulteng

Kasus Dugaan Ilegal Fishing Perairan Kabupaten Buol Naik Ke-Tahap Penyidikan

Sulteng

Sekda Tolitoli Moh Nasrul Bantilan Penuhi Panggilan Persidangan Korupsi Pengadaan Alat Kesehatan

Sulteng

Saat Rakyat Antre Solar, Siapa yang Menikmati BBM Bersubsidi?

Sulteng

Antrean Pertalite SPBU Tolitoli, Besok Mulai Terurai?
error: Konten ini dilindungi hak cipta!