Breaking News

Home / Cerpen Novel

Kamis, 30 April 2026 - 22:16 WIB

Yang Datang di Pukul Tiga

Foto Istimewa ilustrasi Google

Foto Istimewa ilustrasi Google

TINOMBALA.COM, Cerpen — Namanya Rania. Ia bukan perempuan yang mudah bercerita. Bukan karena ia merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan karena terlalu banyak hal dalam hidupnya yang tak lagi ingin ia jelaskan. Ada luka yang, ketika diceritakan berulang-ulang, justru terasa semakin dalam.

Sejak pernikahannya runtuh oleh pengkhianatan, Rania berubah.

Ia yang dulu hangat, perlahan menjadi sunyi. Ia yang dulu percaya, kini memilih ragu. Bukan kepada orang lain semata, tapi juga pada dirinya sendiri, pada keputusan-keputusan yang pernah ia yakini sebagai kebenaran.

Cinta, baginya, bukan lagi sesuatu yang perlu dikejar.

Ia pernah mencintai dengan cara yang utuh. Memberi tanpa syarat, percaya tanpa batas. Namun pada akhirnya, semua itu berakhir dalam satu kenyataan yang tak bisa ia tawar: laki-laki yang ia jadikan rumah, justru menjadi badai yang menghancurkannya.

Sejak saat itu, Rania membuat satu keputusan yang tak pernah ia langgar.

Ia tidak akan kembali pada masa lalu. Tidak juga membuka pintu bagi siapa pun dengan mudah. Itu bukan soal gengsi atau ego, melainkan bentuk penghormatan terakhir pada dirinya sendiri.

Lebih baik sendiri, daripada harus kembali merakit hati yang sama untuk kedua kalinya.

Kini ia tinggal di sebuah rumah tua peninggalan orang tuanya, di pinggir kota yang nyaris tak tersentuh keramaian. Rumah itu berdiri diam, dikelilingi pepohonan tinggi yang seolah menyimpan banyak cerita.

Siang hari terasa biasa.

Namun malam… selalu berbeda.

Malam membawa kesunyian yang lebih pekat. Saat lampu dipadamkan, saat dunia seperti berhenti bergerak, Rania sering duduk sendiri di ruang tamu. Memeluk lututnya, menatap kosong, membiarkan pikirannya mengembara ke tempat-tempat yang tak selalu ingin ia kunjungi.

Ada saat-saat ia rindu ditemani.
Bukan oleh cinta yang rumit. Bukan oleh janji yang mudah diingkari. Hanya… kehadiran.

Malam itu, ia terbangun tanpa sebab.

Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Sunyi terasa lebih berat dari biasanya. Rania mengernyit, mencoba memastikan bahwa yang ia dengar bukan sekadar ilusi.

Namun suara itu kembali terdengar.

Langkah kaki.

Pelan. Teratur.

Seolah seseorang berjalan dengan hati-hati di ruang tamu.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia tahu betul, ia tinggal sendiri.

Dengan napas tertahan, ia membuka pintu kamar. Lorong tampak kosong, lampu redup menggantung lemah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tak ramah.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun perasaan itu tidak pergi.

Seperti ada sesuatu… yang melihatnya.
Ia menutup pintu kembali, berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya hanya kelelahan.

Tapi malam berikutnya, kejanggalan itu terus hadir.

Kursi yang bergeser tanpa sebab. Pintu dapur yang terbuka sendiri. Dan aroma kopi hangat yang tiba-tiba memenuhi ruangan, padahal ia tidak pernah membuatnya.

Baca Juga:  Jerat PETI dan Hukum yang Belum Menyentuh Akar

Awalnya, ia takut.

Namun rasa takut yang terlalu sering hadir, perlahan berubah menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan, lahirlah keberanian kecil.

Hingga suatu malam, Rania memilih untuk tidak tidur.

Ia duduk di ruang tamu, menunggu.

Detik jam terasa panjang. Udara semakin dingin ketika malam mencapai puncaknya.

Pukul tiga.

Lampu meredup.

Dan di kursi kayu di sudut ruangan… seseorang sudah duduk di sana.

Rania membeku.

Sosok itu tampak seperti pria. Wajahnya samar, tertutup kabut tipis yang membuatnya tak sepenuhnya bisa dikenali. Namun kehadirannya terasa nyata.

Ia tidak bergerak.

Hanya duduk.

Menatap.

“Aku tidak akan menyakitimu.”
Suara itu lembut, hampir seperti bisikan yang menyentuh langsung ke dalam pikirannya.

Rania ingin berlari. Tapi tubuhnya menolak.

Anehnya, di balik rasa takut itu, ada ketenangan yang perlahan merambat.

“Aku hanya sendiri.”

Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Rania bergetar.

Sejak malam itu, sosok itu sesekali muncul.

Tidak pernah mengganggu. Tidak pernah mendekat terlalu jauh. Ia hanya hadir, di kursi yang sama, di sudut ruangan, atau di teras rumah saat angin malam berembus pelan.

Seperti seseorang yang mengerti batas.
Seperti Rania.

Hari demi hari, rasa asing itu berubah menjadi akrab.

Rania mulai berbicara.

Tentang harinya. Tentang pekerjaannya. Tentang hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Kadang ia tidak mendapat jawaban.
Namun anehnya, ia tidak merasa diabaikan.

Ia merasa… didengar.

Malam itu, mereka duduk di teras.

Angin membawa aroma tanah basah.

“Aku pernah mencintai seseorang,” ucap Rania pelan.

Sosok itu diam.

“Tapi dia memilih menyakitiku.”

Ia menarik napas panjang.

“Sejak itu… aku memilih untuk tidak kembali.”

Hening menggantung.

Beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi.

“Tidak semua yang datang akan melukai.”

Rania tersenyum kecil.

“Mungkin. Tapi aku tidak ingin mengambil risiko itu lagi.”

Ia menoleh samar ke arah sosok di sampingnya.

“Aku sudah cukup belajar.”

Tidak ada jawaban setelah itu.

Hanya angin.

Namun malam itu tidak terasa sepi.

Rania akhirnya mengerti sesuatu.

Bahwa sendiri tidak selalu berarti kosong. Bahwa menjauh bukan berarti kalah. Dan bahwa menjaga diri… adalah bentuk keberanian yang sering tidak terlihat.

Ia mungkin tidak memiliki siapa pun dalam arti yang biasa.

Namun ia memiliki ketenangan.

Dan entah bagaimana… memiliki kehadiran yang tak pernah ia minta, tapi selalu ada.

Sejak malam itu, Rania tidak lagi takut pada sunyi.

Karena tepat di pukul tiga, ia tahu. selalu ada yang datang menemaninya.

Penulis : Linda Fang TB

Share :

Baca Juga

Cerpen Novel

Selingkuh Itu Indah, Sampai Semua Hancur

Cerpen Novel

Aroma Kebohongan Cerbung, bagian Dua

Cerpen Novel

Di sebuah Kampung yang Dulu Penuh Tawa dan Rasa Kekeluargaan, kini Tersisa Sunyi Menggantung di Antara Dinding Kenangan

Cerpen Novel

Aroma Kebohongan Cerbung bagian Satu

Cerpen Novel

Ketika Lingkaran Mengecil, Hatiku Justru Pulang