Rakyat mengantre berjam-jam. Kendaraan diduga berulang kali mengisi BBM subsidi. Siapa pembelinya, berapa volumenya, dan ke mana Pertalite dan Solar itu mengalir?
TINOMBALA.COM, Buol, Sulteng – Antre Pertalite dan Solar subsidi terus diburu. Di sejumlah SPBU Kabupaten Buol, antrean kendaraan kembali mengular hampir setiap hari. Di tengah panjangnya antrean, muncul pertanyaan yang tak kalah penting. Siapa yang sebenarnya menikmati subsidi negara?
Penelusuran Wartawan media ini selama sepekan Sejumlah rekom pengisian jaregen tiap hari di gunakan begitu juga kendaraan terlihat berulang kali berada dalam antrean pengisian BBM subsidi. Sebagian diduga berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya. Pola tersebut perlu dijelaskan, terutama bila pengisian dilakukan berulang dalam waktu relatif singkat.

Foto Istimewa
Jika rekomendasi perahu nelayan dan kendaraan benar-benar mengisi BBM untuk kebutuhan mobilitas normal, pertanyaannya sederhana. Setelah mengisi Pertalite,Solar, ke mana kendaraan itu bergerak? Dan ketika kembali muncul di SPBU lain, pengisian rekomendasi jaregen berulang untuk kebutuhan siapa BBM tersebut?
Dugaan adanya praktik pengumpulan atau penyaluran kembali Pertalite – Solar subsidi tentu tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan rekomendasi pengisian Jerigen, kendaraan di antrean. Tanda, tulisan, atau identitas tertentu pada kendaraan juga bukan bukti pelanggaran. Namun, pola pengisian berulang dapat menjadi petunjuk awal yang layak diverifikasi.
Sebab yang perlu ditelusuri bukan hanya siapa yang berdiri di depan dispenser, tetapi juga berapa kali rekomendasi pengisian jaregen, kendaraan melakukan transaksi, berapa volumenya, menggunakan barcode identitas siapa, serta ke mana BBM tersebut dibawa setelah keluar dari SPBU.

Adrian Ketua NCW Nasional Corupsen World perwakilan sulawesi Tengah menegaskan, pengawasan semestinya tidak berhenti pada nozzle dispenser. Data transaksi dan pola pembelian dapat menjadi pintu untuk melihat apakah Pertalite dan Solar subsidi benar-benar diterima konsumen yang berhak atau justru berpotensi berpindah ke mata rantai lain.
” Jika seluruh transaksi sesuai ketentuan, publik tentu berhak memperoleh penjelasan agar tidak muncul prasangka. Namun jika ditemukan penyimpangan, aparat penegak hukum dan instansi terkait perlu mengambil tindakan sesuai aturan.
Sebab Pertalite dan Solar subsidi bukan sekadar BBM murah. Di dalamnya terdapat uang negara dan hak masyarakat yang membutuhkan,” Jelas Adrian. Ironis bila rakyat harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean, sementara pada saat yang sama terdapat dugaan pembelian berulang oleh pihak tertentu yang menyalahgunakan BBM Subsidi.
Antrean panjang mungkin hanya gejalanya. Persoalan sebenarnya adalah ke mana subsidi itu mengalir.
NCW berharap Baracode rekomendasi pengisian jaregen dikeluarkan dinas terkait dapat diidentifikasi. SPBU dapat diketahui, dan Transaksi dapat ditelusuri dengan kendaraan bolak balik pengisian BBM Subsidi.
” Lantas, sudah sejauh mana APH dan instansi terkait memetakan pola tersebut? Rakyat sudah lama mengantre.
Siapa yang membeli? Berapa banyak yang dibeli? Dan siapa yang akhirnya menikmati Solar subsidi itu? (RS)
Editor: Juma Usman





















