Tinombala.com, Buol – Lima belas warga asal Sabah, Malaysia, terombang-ambing di laut lepas Perairan Sulawesi selama hampir tiga hari. Mereka ditemukan sekitar 72 mil laut dari daratan Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Kamis pagi, 22 Januari 2026, sekitar pukul 08.00 WITA.
Rombongan itu terdiri atas delapan anak-anak dan tujuh orang dewasa. Mereka pertama kali ditemukan oleh Muhamad Risman, nelayan asal Kabupaten Buol. Saat itu, kelima belas warga Sabah tersebut hanyut tanpa arah di laut lepas, menumpang perahu kecil jenis sepid, dalam kondisi kelelahan dan dehidrasi. “Mereka minta tolong. Sudah sangat lemah,” kata Risman.
Risman lalu membawa seluruh korban ke daratan. Setibanya di pesisir, tim gabungan TNI AL, Polairud, BPBD, dan Dinas Sosial segera mengevakuasi mereka ke RSUD Mokoyurli Buol untuk mendapatkan penanganan medis.
Belasan Dirawat di IGD
Pihak tim gabungan mencatat, 13 dari 15 warga Sabah kini menjalani perawatan intensif di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejak Kamis malam sekitar pukul 21.00 WITA. Dua orang lainnya dilaporkan dalam kondisi stabil dan tidak memerlukan rawat inap.
Berikut daftar warga Sabah Malaysia yang mendapatkan perawatan medis di RSUD Mikoyurli Buol
Bandir (L), Busadita (P), Nadisa (P), Dedea (P), Along (L), Lisa (P), Epan (L), Naurah (P), Laurah (P), Sunsang (L), Saulina (P), Nufaida (P), Aidah (P), Mira (P), dan Adima (P).
Dari Filipina, Terhantam Cuaca Buruk
Keterangan sementara diperoleh media ini Kamis malam 22/01/2026, dari salah seorang korban yang mendampingi anaknya di ruang perawatan. Ia menyebutkan, mereka berlayar dari Filipina untuk menghadiri pemakaman anggota keluarga. Dalam perjalanan pulang menuju Sabah, Malaysia, perahu yang mereka tumpangi dihantam cuaca buruk dan angin kencang.
Mesin perahu tak mampu melawan arus dua orang melompat di perairan Malaysia Mereka kemudian melepaskan mesin dari perahu terseret hingga ke laut lepas Perairan Sulawesi, jauh dari jalur pelayaran semula, ” Tuturnya .
Hingga kini, aparat tim gabungan masih menghimpun keterangan lanjutan. Sebagian korban belum dapat dimintai keterangan mendalam karena diduga mengalami trauma fisik dan psikologis setelah berhari-hari terpapar cuaca ekstrem di laut lepas. (Reiyna/Red)

















