Breaking News

Home / Catatan Kopi Pahit Redaksi

Minggu, 25 Januari 2026 - 09:30 WIB

Pak Rusman “Cici” dan Laut yang Mengajarkan Arti Kemanusiaan

Hari terakhir Cici Nelayan Kabupaten Buol bersama Warga Filipina yang diselamatkan. Sabtu (24/01/2026) Foto Istimewa

Hari terakhir Cici Nelayan Kabupaten Buol bersama Warga Filipina yang diselamatkan. Sabtu (24/01/2026) Foto Istimewa

Tinombala.com – Laut Buol pagi itu tidak berbeda dari hari-hari lain. Ombak bergulung tenang, angin membawa bau asin, dan perahu-perahu kayu nelayan bergerak pelan seperti denyut nadi kehidupan pesisir. Di salah satu perahu sederhana itulah Pak Rusman yang lebih dikenal sebagai Cici menjalani rutinitasnya: melaut, mencari ikan, menyambung hidup, menghidupi keluarga.

Ia bukan tokoh besar. Tak ada pangkat, tak ada seragam, tak ada atribut kehormatan. Ia hanya seorang nelayan kampung, dengan kaos lusuh, kulit legam terbakar matahari, dan tangan yang lebih akrab dengan jala ketimbang dengan pujian.

Namun laut, seperti sejarah, selalu memilih caranya sendiri untuk melahirkan pahlawan.

Di hamparan biru yang tak bertepi, sekelompok warga negara asing asal Filipina telah berhari-hari terombang-ambing. Hampir dua pekan. Tanpa kepastian arah, tanpa air bersih, tanpa logistik, dan tanpa harapan yang utuh. Laut yang luas berubah menjadi ruang penantian antara hidup dan mati.

Sampai akhirnya mereka bertemu Pak Rusman.

Tak ada negosiasi panjang. Tak ada kalkulasi untung-rugi. Tak ada pertanyaan tentang kewarganegaraan, identitas, atau administrasi. Yang ada hanya satu keputusan sederhana yang lahir dari nurani menolong.

Di situlah kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling jujur.

Pak Rusman mengulurkan tangan. Mengangkat tubuh-tubuh yang lemah. Menyelamatkan nyawa-nyawa yang hampir padam. Bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai tokoh, tapi sebagai manusia kepada manusia lain.

Bagi mereka yang diselamatkan, Pak Rusman adalah kehidupan kedua.

Bagi keluarga mereka di Filipina, ia adalah kabar yang membatalkan duka.

Bagi Buol, ia adalah wajah kemanusiaan yang lahir dari kesederhanaan.

Dalam dunia yang semakin bising oleh simbol, jabatan, dan pencitraan, kisah Pak Rusman justru hadir dalam kesunyian. Tanpa panggung. Tanpa seremoni. Tanpa siaran langsung. Tanpa spanduk ucapan terima kasih.

Baca Juga:  Jetty Rp1,5 Miliar Desa Nambo Dipersoalkan, Warga Desak Kejari Tetapkan Tersangka

Ia kembali melaut.
Kembali ke perahu kayunya.
Kembali ke hidupnya yang sederhana.

Seolah tak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa.

Padahal, ia telah melakukan hal yang paling langka hari ini: memilih kemanusiaan, tanpa syarat.

Pak Rusman mengingatkan kita bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir dari kekuasaan, tidak selalu datang dari institusi, dan tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan. Kadang, ia lahir dari keputusan sunyi seorang nelayan di tengah laut lepas.

Dan laut Buol, pagi itu, tidak hanya menjadi ruang pencarian ikan.
Ia menjadi saksi lahirnya sebuah kemuliaan kecil yang maknanya besar

bahwa manusia masih bisa menjadi penolong bagi manusia lain.Tanpa jubah.Tanpa nama besar.Tanpa panggung sejarah. Hanya hati, perahu kayu, dan keberanian untuk peduli. (Faisal)

Share :

Baca Juga

Catatan Kopi Pahit Redaksi

“Minahasa Menangis Nusantara Ikut Terpukul”

Catatan Kopi Pahit Redaksi

“Kalian Salah Tempat Jika Mengira Kami Masih Bisa Ditakut-takuti”

Catatan Kopi Pahit Redaksi

Morowali Kawasan Industri Raksasa atau ‘Negara dalam Negara’?

Catatan Kopi Pahit Redaksi

Operasi Senyap Bukan Eksekusi !

Catatan Kopi Pahit Redaksi

Perusahaan Kenyang, Usus Perut Pribumi Meradang

Catatan Kopi Pahit Redaksi

“Operasi Tanpa Target Tapi Pulang Bawa Bekal”

Catatan Kopi Pahit Redaksi

Mereka Datang Dengan Alat Berat, Tanah Dirobek Seperti Tak Akan Pernah Kembali