Tinombala.com, Palu Sulteng – Jum’at, 13/02/2026 Dari luar, Gedung Mespemda Kabupaten Tolitoli di Jalan MT Haryono, Kota Palu, tampak gagah. Pilar kokoh, fasad megah, dan jejak anggaran miliaran rupiah terpancar dari setiap sudut bangunan.
Namun, kemegahan itu runtuh begitu pintu ruangan dibuka.
Beberapa kamar di dalam gedung milik Pemerintah Kabupaten Tolitoli itu justru menyuguhkan pemandangan muram, atap bocor, air hujan menetes bebas ke lantai, dinding dipenuhi lumut hijau kehitaman. Saat hujan deras turun, air tak sekadar merembes, ia menggenang. Bau lembap menyengat. Cat mengelupas. Plafon menghitam.
“Sudah lama begitu. Tidak pernah disentuh perbaikan,” ujar seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Gedung ini dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah dari APBD pada masa kepemimpinan Moh Saleh Bantilan. Ia pernah digadang-gadang sebagai simbol kemajuan daerah. Tapi kini, sebagian ruangannya lebih menyerupai bangunan tak berpenghuni-sunyi, lembap, dan nyaris seperti kuburan beton yang pelan-pelan dilupakan.

Foto Istimewa (TB)
Ironisnya, kerusakan itu bukan baru sehari dua hari. Sumber internal menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan serius. Pertanyaan pun mengemuka: di mana fungsi pengawasan aset daerah? Siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaan bangunan bernilai miliaran rupiah itu?
Gedung megah yang dibangun dari uang rakyat semestinya dirawat, bukan dibiarkan membusuk di bawah atap bocor.
Kini publik menunggu sikap Bupati Amran H Yahya. Apakah pemerintah daerah akan segera turun tangan memperbaiki kerusakan yang nyata di depan mata? Atau Mespemda akan terus berdiri megah di luar-rapuh di dalam?
Kemegahan tanpa perawatan hanyalah ilusi. Dan ilusi yang dibiarkan terlalu lama bisa berubah menjadi pemborosan. (FL)















