Tinombala.com, Jakarta — Rintik hujan yang turun sejak pagi tak menyurutkan langkah ribuan warga memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Ahad pagi, 8/03/2026. Sejak pukul enam, masyarakat telah berjejer di sepanjang ruas jalan yang menjadi rute Festival Pawai Ogoh-ogoh 2026, dari kawasan Monas hingga Bundaran HI.
Di tengah suasana car free day, iring-iringan ogoh-ogoh berukuran besar bergerak perlahan di sepanjang jalan protokol Ibu Kota. Patung raksasa yang menggambarkan berbagai karakter raksasa dan makhluk mitologis itu diusung puluhan peserta, diiringi musik tradisional dan atraksi budaya.
Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin turut mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat membuka parade budaya tersebut.
Peserta pawai berasal dari berbagai banjar Hindu serta sekolah-sekolah di Jakarta. Mereka menampilkan ogoh-ogoh dengan beragam bentuk dan ukuran, menciptakan arak-arakan budaya yang menarik perhatian warga yang memadati sepanjang jalur pawai.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan festival ini digelar sebagai rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19–20 Maret 2026.
“Hari ini saya mewakili Bapak Gubernur merasa bangga dan bahagia. Biarkan Tuhan memberikan keberkahan dari hujan. Selamat merayakan Hari Raya Suci Nyepi, semoga aman dan damai,” ujar Rano di sela acara.
Menurut dia, Festival Pawai Ogoh-ogoh merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan organisasi umat Hindu di Jakarta, yakni Parisada Hindu Dharma Indonesia serta berbagai komunitas Hindu di Ibu Kota.
Tahun ini, festival melibatkan hampir 2.000 peserta dengan sekitar 13 hingga 15 ogoh-ogoh yang diarak dalam satu rangkaian parade budaya.
Rano menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan simbol sifat-sifat negatif dalam diri manusia yang harus disucikan menjelang Hari Raya Nyepi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, juga tengah mengembangkan berbagai perayaan budaya sebagai bagian dari kalender kebudayaan kota. Perayaan tersebut mencakup berbagai tradisi lintas agama dan budaya.
“Dimulai dari perayaan Natal melalui Christmas Carol, kemudian Imlek, Ramadan, hingga Nyepi sebelum mencapai puncaknya pada Idulfitri,” kata Rano.
Festival tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa serta sejumlah pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
Pewarta: Denny
Editor: Linda Fang

















