TINOMBALA.COM, Buol Sulawesi Tengah — Senin, 11/05/2026 Pelayanan di RSUD Mokoyurli Buol kembali menuai sorotan masyarakat. Sejumlah pasien dan keluarga pasien mengeluhkan keterlambatan pelayanan dokter spesialis yang dinilai terus berulang meski persoalan insentif tenaga medis disebut telah mendapat perhatian pemerintah daerah.
Keluhan muncul setelah pasien harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian jadwal pemeriksaan. Sebagian pasien bahkan mengaku telah datang sejak pagi untuk mengambil nomor antrean lebih awal, namun pelayanan tetap molor dengan alasan dokter masih melakukan operasi atau berada di luar daerah.
“Kalau insentif minta dinaikkan, pelayanan juga harus ditingkatkan. Jangan pasien terus yang jadi korban,” ujar salah satu keluarga pasien.
Kondisi itu memicu kritik tajam dari masyarakat yang menilai pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah diduga mulai kehilangan orientasi kemanusiaan.
Pasien disebut harus menanggung beban tambahan, mulai dari rasa sakit yang berkepanjangan, biaya perjalanan, hingga kehilangan waktu bekerja hanya untuk menunggu pelayanan yang tidak pasti.
Publik tidak menolak tuntutan peningkatan kesejahteraan dokter. Namun masyarakat menilai hak tersebut harus diiringi tanggung jawab moral dan profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
“Tidak adil jika hak dokter terus disuarakan, sementara kewajiban dasar terhadap pasien sering diabaikan. Pasien bukan objek tawar-menawar,” kata sumber terpercaya Senin, 11/05/2026.
Sorotan juga diarahkan pada manajemen pelayanan rumah sakit. Warga mempertanyakan alasan keterlambatan yang terus dikaitkan dengan jadwal operasi, padahal rumah sakit disebut memiliki lebih dari satu dokter spesialis pada bidang yang sama.
Menurut warga, jika sistem pengaturan jadwal berjalan baik, pelayanan seharusnya tetap dapat dibagi sehingga pasien tidak menumpuk tanpa kepastian.
Kritik masyarakat semakin menguat setelah muncul informasi bahwa salah satu dokter spesialis dikabarkan berada di luar kota di tengah tingginya kebutuhan pelayanan pasien. Akibatnya, sejumlah pasien kembali dirujuk ke rumah sakit lain.
Situasi tersebut memicu kekecewaan masyarakat karena pelayanan dinilai kembali terganggu meski isu kenaikan insentif dokter disebut telah disetujui.
Warga mendesak manajemen RSUD Mokoyurli dan pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap disiplin tenaga medis dan sistem pelayanan rumah sakit.
“Kalau memang benar pergi tanpa izin dan membuat pasien harus dirujuk lagi, itu harus dievaluasi serius. Jangan masyarakat terus dirugikan,” ujar warga lainnya.
Masyarakat berharap persoalan pelayanan di RSUD Mokoyurli tidak berhenti hanya pada polemik insentif, tetapi menjadi momentum pembenahan menyeluruh terhadap disiplin kerja, etika pelayanan, dan tanggung jawab moral tenaga medis.
Bagi warga, rumah sakit bukan sekadar tempat bekerja dan mencari penghasilan, melainkan tempat masyarakat menggantungkan harapan hidup dan keselamatan mereka.
Pewarta : Reiyna
Editor : Linda Fang

















