ARAB SAUDI — Terik matahari Makkah mulai menjadi ancaman serius bagi jamaah haji Indonesia, terutama kelompok lanjut usia. Di tengah suhu ekstrem dan padatnya aktivitas ibadah, satu per satu jamaah lansia dilaporkan wafat di Tanah Suci.
Hingga pertengahan Mei 2026, Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat sedikitnya 24 jamaah haji Indonesia meninggal dunia. Sementara itu, 67 jamaah lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi.
Di saat bersamaan, gelombang kedatangan jamaah Indonesia terus berlangsung. Data operasional haji menunjukkan sebanyak 92.767 jamaah telah tiba di Kota Makkah dari berbagai embarkasi di Tanah Air.
Mayoritas jamaah yang wafat berasal dari kelompok lanjut usia dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi. Faktor usia, penyakit bawaan, hingga kelelahan akibat cuaca panas disebut menjadi pemicu utama.
“Sebagian besar kasus kematian dipicu penyakit bawaan dan gangguan kesehatan akut seperti serangan jantung serta infeksi saluran pernapasan,” kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama RI, Subhan Cholid, dalam keterangan resmi operasional haji 2026.
Jamaah terakhir yang tercatat meninggal dunia ialah Kasiani Sigito Tarmidi, anggota kelompok terbang KNO-08 asal Medan, Sumatera Utara. Ia wafat pada 10 Mei 2026 di Arab Saudi.
Cuaca ekstrem di Makkah disebut memperberat kondisi fisik jamaah, khususnya lansia. Pada siang hari, suhu udara di sejumlah titik dilaporkan menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Dalam situasi demikian, aktivitas ibadah yang padat membuat jamaah rentan mengalami dehidrasi, kelelahan berat, hingga gangguan jantung.
Pemerintah Indonesia kini memperketat pemantauan kesehatan jamaah menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina—fase yang selama ini dikenal paling menguras tenaga.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Liliek Marhaendro Susilo, meminta jamaah tidak memaksakan diri menjalani aktivitas di luar kemampuan fisik.
“Jamaah dengan penyakit kronis harus disiplin mengonsumsi obat dan tidak memaksakan diri mengikuti aktivitas di luar kondisi fisiknya,” ujar Liliek.
Fenomena wafatnya jamaah lansia bukan kali pertama terjadi dalam penyelenggaraan haji Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, angka kematian jamaah terus menjadi perhatian serius pemerintah.
Pada musim haji 2025, jumlah jamaah wafat tercatat berkisar antara 389 hingga 423 orang, sebagian besar meninggal di Makkah. Tahun 2024 jumlah kematian mencapai 461 orang, sedangkan 2023 menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir dengan lebih dari 770 jamaah wafat.
Adapun pada 2022, ketika penyelenggaraan haji masih berlangsung dalam masa transisi pascapandemi COVID-19, jumlah jamaah meninggal tercatat sebanyak 89 orang.
Konsul Haji pada Kantor Urusan Haji Jeddah, Nasrullah Jasam, mengatakan seluruh jamaah Indonesia yang meninggal di Arab Saudi dimakamkan di pemakaman setempat sesuai aturan pemerintah Saudi.
“Proses pemulasaraan dan pemakaman dilakukan oleh otoritas Arab Saudi dengan pendampingan petugas haji Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah memastikan seluruh hak jamaah yang wafat tetap dipenuhi, termasuk pelaksanaan badal haji bagi mereka yang belum sempat menuntaskan rangkaian ibadah.
Menjelang puncak ibadah haji, pemerintah meminta jamaah memprioritaskan kesehatan dan mematuhi arahan petugas demi menekan risiko kematian maupun gangguan kesehatan serius selama berada di Tanah Suci.















