Breaking News

Home / Bukittinggi Sumatera

Minggu, 7 Juni 2026 - 01:21 WIB

Mengapa Kegiatan 200 Mahasiswa PGMI UIN Batusangkar Ini Mendapat Apresiasi dari Pakar Pendidikan?

Foto Istimewa Sari - TB

Foto Istimewa Sari - TB

TINOMBALA.COM, Batusangkar Sumbar  — Lapangan itu riuh oleh tawa dan sorak-sorai. Sejumlah siswa berlarian menyelesaikan tantangan kelompok, sementara di sudut lain beberapa peserta tampak berdiskusi mencari solusi atas permainan yang diberikan. Sekilas suasananya menyerupai kegiatan rekreasi biasa. Namun di balik berbagai permainan tersebut, berlangsung sebuah proses pembelajaran yang dirancang secara serius.

Selama dua hari, 5–6 Juni 2026, sebanyak 200 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Mahmud Yunus Batusangkar menggelar kegiatan rekreasi edukatif dan outbound sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning. Kegiatan ini dirancang untuk membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.

Berbagai permainan edukatif disusun untuk melatih kemampuan berpikir, kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, hingga keterampilan memecahkan masalah. Melalui aktivitas fisik yang terstruktur, peserta didik diajak belajar sambil mengalami langsung setiap proses yang dijalani.

Bagi dunia pendidikan modern, pendekatan seperti ini bukan sekadar kegiatan luar ruangan. Pakar motorik Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Anton Komaini, M.Pd., menilai aktivitas berbasis pengalaman mampu menghubungkan fungsi tubuh dan otak secara lebih optimal dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan penyampaian teori.

“Robert Gagne dan Benjamin Bloom menjelaskan bahwa aktivitas motorik merupakan hasil keterpaduan proses kognitif, afektif, dan psikomotor. Apa yang sering dianggap sebagai kegagalan gerak sebenarnya berkaitan dengan proses pengolahan informasi di otak,” ujarnya.

Menurut Anton, pengalaman belajar yang melibatkan gerakan secara langsung dapat memperkuat daya ingat, meningkatkan keterampilan motorik, sekaligus membantu peserta didik mencapai tahap otomatisasi dalam belajar. Pada tahap ini, pengetahuan tidak lagi sekadar dipahami, melainkan menjadi keterampilan yang melekat dalam diri siswa.

Baca Juga:  Tertib Pajak Dimulai dari Aparat, Satpol PP Buol Ikuti Sosialisasi SPT

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI), Gigih Gesang, S.Psi. Ia menilai langkah yang dilakukan mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar merupakan inovasi yang layak menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain.

“Saya sangat mendukung kegiatan ini. Ini merupakan langkah revolusioner dalam dunia pendidikan. Saya berharap kampus-kampus lain dapat mengikuti inovasi yang dilakukan mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar,” katanya.

Bagi para mahasiswa, kegiatan tersebut bukan hanya sarana pengabdian kepada peserta didik, tetapi juga ruang praktik untuk menguji teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. Mereka dituntut mampu merancang aktivitas yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

Dosen PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rio Afriadi, S.Si., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori pendidikan dengan praktik di lapangan. Menurut dia, calon guru masa depan harus mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

“Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi siswa, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon pendidik yang kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap kebutuhan pembelajaran di lapangan,” ujarnya.

Manfaat kegiatan itu juga dirasakan langsung oleh para peserta. Jihan Dwi Raudatul Jannah, mahasiswi PGMI angkatan 2025, mengaku memperoleh pengalaman yang sulit didapatkan melalui pembelajaran konvensional di kelas. Melalui berbagai tantangan kelompok, ia belajar tentang kerja sama, kepemimpinan, komunikasi, hingga pentingnya menghargai peran setiap anggota tim.

“Outbound membuat kami belajar dengan cara yang berbeda. Kami tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami langsung bagaimana bekerja sama, memimpin, dan menyelesaikan masalah bersama,” tuturnya.

Baca Juga:  Serikat Pekerja Media Dibentuk di Bukittinggi, Soroti Perlindungan dan Kesejahteraan Wartawan

Kegiatan yang digagas mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar ini menunjukkan bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja. Ketika pengalaman dijadikan bagian dari metode pembelajaran, pendidikan tidak hanya menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga lebih efektif dalam membentuk karakter, keterampilan sosial, dan kemampuan berpikir peserta didik. Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21, pendekatan semacam ini menjadi pengingat bahwa belajar terbaik sering kali lahir dari pengalaman yang dialami secara langsung. (Sari)

Editor  : Linda Fang 

Share :

Baca Juga

Bukittinggi Sumatera

Sidang Perdana Kasus Ibu Buang Bayi di Ngarai Sianok Digelar di Pengadilan Negeri Bukittinggi

Bukittinggi Sumatera

Permainan Anak Nagari Kembali Digelar, Bukittinggi Rawat Tradisi Minangkabau

Bukittinggi Sumatera

Stok Darah PMI Bukittinggi Update Pagi Ini, Golongan O PRC Masih Tertinggi

Bukittinggi Sumatera

Polisi Tangkap Warga Agam yang Menanam Ganja di Belakang Rumah

Bukittinggi Sumatera

Satlantas Polresta Bukittinggi Bantah Tudingan Pungli, Penertiban Balap Liar dan Knalpot Brong Diperketat

Bukittinggi Sumatera

Advokat Pekanbaru Dipecat Tetap, DKP Peradi Bukittinggi Jatuhkan Putusan Verstek

Bukittinggi Sumatera

Serikat Pekerja Media Dibentuk di Bukittinggi, Soroti Perlindungan dan Kesejahteraan Wartawan

Bukittinggi Sumatera

DPRD Bukittinggi Selidiki Dugaan PHK Sepihak, Empat Pekerja Dilaporkan KSPSI