Breaking News

Home / Gorontalo

Rabu, 1 April 2026 - 16:36 WIB

Rekomendasi Pansus Tambang Mandek, DPP Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 Soroti Dugaan Kerugian Rakyat Kecil

Foto Istimewa

Foto Istimewa

Tinombala.com, Gorontalo — Harapan publik terhadap Panitia Khusus (Pansus) Pertambangan DPRD Provinsi Gorontalo mulai memudar. Rekomendasi yang diparipurnakan pada 9 Desember 2025 itu hingga kini belum beranjak dari dokumen.

Dewan Pimpinan Pusat Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 angkat bicara. Mereka menilai mandeknya tindak lanjut rekomendasi pansus berpotensi merugikan masyarakat, terutama kelompok kecil yang terdampak langsung aktivitas pertambangan.

Sejak awal, pembentukan pansus disambut sebagai jalan keluar atas persoalan tambang yang berlarut. Prosesnya menyerap anggaran daerah dan melibatkan serangkaian kajian, termasuk studi kelayakan. Namun lebih dari tiga bulan berselang, tak terlihat perubahan berarti di lapangan.

“Jika hanya berakhir sebagai dokumen, maka rakyat yang menanggung kekecewaan,” ujar Moh Hasbi Sekjen DPP LAKI.P.45 Jakarta, Rabu,1/04/2026

Di lapangan, konflik kepentingan tetap berlangsung. Dampak lingkungan belum tertangani. Masyarakat di sekitar wilayah tambang masih berada dalam ketidakpastian. Rekomendasi yang semestinya menjadi pijakan kebijakan justru belum bergerak menjadi tindakan.

Sorotan utama tertuju pada tiga poin krusial yang hingga kini belum disentuh. Pertama, pembayaran tali asih atas lahan tambang rakyat yang telah diambil alih perusahaan. Kedua, audit penjualan 51 persen saham milik rakyat dalam KUD Dharma Tani. Ketiga, mediasi konflik dualisme kepengurusan koperasi tersebut yang tak kunjung selesai.

Bagi warga, persoalan ini melampaui urusan administratif. Ia menyangkut hak atas tanah, keadilan ekonomi, dan kepastian hukum. Ketika rekomendasi tak diikuti langkah konkret, yang muncul bukan hanya stagnasi, melainkan rasa ketidakadilan yang berulang.

Di sisi lain, anggaran diduga telah terpakai. Dana publik digunakan untuk membiayai kerja pansus dengan harapan melahirkan solusi. Ketika hasilnya berhenti di atas kertas, pertanyaan publik menguat: untuk siapa proses ini dijalankan?

Baca Juga:  Gorontalo Bersinar

Secara formal, rekomendasi DPRD memang tidak bersifat mengikat. Namun secara politik dan moral, ia semestinya menjadi dasar tindakan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Ketika itu diabaikan, yang tergerus bukan hanya fungsi rekomendasi, tetapi juga legitimasi proses politik itu sendiri.

Hingga laporan ini disusun, pimpinan maupun anggota DPRD Provinsi Gorontalo belum memberikan pernyataan resmi terkait mandeknya tindak lanjut rekomendasi tersebut. Ketiadaan respons di tengah situasi ini memperlebar jarak antara harapan publik dan realitas kebijakan.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar efektivitas pansus. Melainkan kepercayaan publik. Dan ketika kepercayaan itu mulai terkikis, yang tersisa bukan hanya kekecewaan, tetapi juga rasa ditinggalkan oleh sistem yang seharusnya hadir melindungi. (Tim)

Share :

Baca Juga

Gorontalo

Tambang Belum Beroperasi, Polemik Sudah Membelah Popoyato

Gorontalo

PETI Desa Balayo, Polsek Patilamgio Amankan Satu Unit Alat Berat Merek Kabelco

Gorontalo

Plasma Digeser ke 2028? Warga Menolak, Pegang Hasil Rapat 2026

Gorontalo

Janji Plasma Diundur ke 2028, Korlap Fadhli Geram: Kesepakatan 2026 Jangan Dikhianati

Gorontalo

Fendi Sesali Statemen Mikel, “Ketua Fokal Bagaikan Pengemis”

Gorontalo

PT Biomasa Group Gelar Safari Ramadan ke-3 di Desa Lomuli, Santuni Anak Yatim dan Dhuafa

Gorontalo

Forum Penambang Gunung Pani: Putusan MA Final, Pemerintah Tak Punya Alasan Menghindar

Gorontalo

Gakkum Dinilai Tumpul, PETI Menggila di Bugu Marisa, 10 Ekskavator Dikendalikan Satu Pengusaha
error: Konten ini dilindungi hak cipta!